Widget HTML Atas

MINTALAH HANYA KEPADA ALLAH


MINTALAH HANYA ALLAH
Pada edisi kali ini kita akan melanjutkan kajian Hadits kesembilan-belas dari silsilah Hadits Arbain Nawawiyah. Rasulullah SAW meneruskan nasehatnya kepada sahabat Ibnu Abbas RA:

‘’Jagalah Allah maka engkau akan mendapati-nya di hadapanmu.’’ 
Apabila seorang hamba selalu menjaga perintah Allah SWT dan menghindari apa yang dilarang oleh Allah SWT, ia akan mendapati perhatian Allah tercurah kepadanya di setiap keadaan. Kemana saja ia pergi, Allah SWT akan senantiasa menjaga, memberikan petunjuk serta taufiq-Nya dan meluruskan langkahnya apabila ia keliru. Allah SWT berfirman: 

‘’Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang yang berbuat kebaikan.’’{Qs. An-Nahl:128}.
Al Qotadah memberikan komentarnya, ‘’Siapa yang senantiasa bertakwa kepada Allah akan selalu ada bersamanya. Siapa berada bersama Allah, ia berada pada kelompok yang tidak akan pernah terkalahkan. Ia memiliki penjaga yang tidak pernah tidur, dan pemberi petunjuk yang tidak pernah menyesatkan.’’ 
Kebersamaan Allah SWT bersama hamba-Nya terbagi menjadi dua. Kebersamaan umum yang bersifat pengawasan dan kebersamaan khusus yang bersifat penjagaan. Kebersamaan umum diisyaratkan di dalam firman Allah SWT: 

‘’Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melakukan dia-lah keempatnya. Dan tiada { pembicaraan antara} lima orang, melainkanlah dialah keenamnya. Dan tiada {pula} pembicaraan antara jumlah yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan dia berada bersama mereka di manapun mereka berada.’’ {Qs al-Mujadalah:7}.
Kebersamaan umum menunjukkan pengetahuan dan pengawasan Allah atas perbuatan hamba-nya. Kebersamaan ini menumbuhkan rasa takut kepada Allah SWT. Sedangkan kebersamaan khusus bersifat menenangkan.kebersamaan ini diisyaratkan dalam firman Allah SWT kepada Nabi Musa AS dan Nabi Isa AS: 

Allah berfirman: ‘’Janganlah kamu berdua khawatir, sesungguhnya Aku beserta kamu berdua, Aku mendengar dan melihat.’’{Qs Thaha:46}.
Kebersamaan ini pula yang disebutkan oleh Nabi SAW kepada Sayyidina Abu Bakar RA ketika mereka berdua bersembunya di gua tsur dari kejaran kaum kafir: 

‘’Janganlah kamu berduka-cita, sesungguhnya Allah beserta kita.’’ {Qs at-Taubah: 40}.
Kebersamaan khusus ini menampakkanpertolongan Allah, peneguhan, penjagaan dan kemenangan. Siapa yang selalu menjaga hak-hak Allah, ia akan mendapati kebersamaan khusus ini. Allah SWT akan senantiasa akan berada di hadapannya pada setiap keadaan. Ia merasakan ketenangan dan kecukupan dengan Allah. Ini adalah posisis iman yang sangat tinggi. Rasulullaah SAW  mengisyaratkan posisi ini 
Meminta kepada Allah 
Rasulullah SAW meneruskan nasihat kepada sahabat Ibnu Abbas RA 
‘’jika engkau meminta, mintalah hanya kepada Allah.’’ 
Pada hakikatnya, hanya Allah SWT saja yang dapat memberikan manfaat dan mencegah bahaya dari makhluk-Nya. Hanya Allah SWT yang mahakaya dan pemilik segala sesuatu. Tidak ada yang dapat mengabulkan dan memberikan apa yang kita minta selain Allah semata. Kita tidak dapat memperoleh sekecil apapun dari keperluan kita, kecuali jika Allah menghendakinya. Oleh sebab itu, kita dianjurkan untuk selalu meminta kepada Allah, baik urusan yang besar ataupun yang kecil. Rasulullah SAW bersabda: 
‘’hendaknya setiap kalian meminta semua keperluannya kepada tuhannya bahkan keperluannya hanyalah tali sandalnya ketika terputus.’’{HR Ibnu Hibban}.
Meminta itu ada dua macam: 
Pertama, meminta sesuatu yang secara adat tidak dapa diberikan oleh makhluk. Contohnya adalah hidayah, taufiq, kefahaman ilmu, kesembuhan bagi yang sakit, keselamatan dari bencana dunia dan akhirat, pengamunan, keridhoan, masuk surge dan lainnya. Semua ini tidak boleh diminta   kecuali pada Allah saja. Siapa yang meminta ini selain Allah dengan keyakinan yang diminta dapat mewujudkannya secara mandiri, maka ia telah berbuat syiri. 

Tapi perlu diketahui bahwa meminta kepada Allah itu pun ada dua macam:
Memina secara langsung, seperti berdoa langsung kepada Allah agar Allah menyembuhkan penyakitnya, memberikan petunjuk dan ampunan kepadanya dan pemintaan lainnya. Ada pula jenis memohon kepada Allah SWT dengan perantara sesuatu yang dimuliakan oleh Allah SWT. Ini banyak ragamnya dan banyak diizinkan oleh syariat. Di antaranya adalah meminta doa kepada orang yang sholeh, atau meminta kepada Allah dengan perantara amal kebaikan yang pernah dikerjakan. 
Termauk bentuk memohon kepada Allah SWT dengan perantara para Nabi adalah kisah padang Mahsyar, mereka mendatangi para Nabi agar memberi syafaat kepada Allah dan memudahkan mereka di Mahsyar.
Dikisahkan dalam Hadits shahih bahwa suatu waktu tiga orang pengembara  berlindung dari hujan di sebuah gua.tiba-tiba ada sebuah batu besar yang jatuh dan menutupi mulut gua, salah satu dari mereka berkata: 
‘’perhatikanlah amal-amal shaleh yang pernah kalian lakukan. Lalu berdoalah kepada Allah taala dengan perantara amal itu, mudah-mudahan Allah menyingkirkan batu itu untuk kalian.’’{HR Muslim}.
Setiap orang dari mereka mengisahkan amalshaleh yang pernah dilakukan. Kemudian berdoa kepada Allah dengan perantara amal shaleh itu. Setiap kali salah seorang dari mereka berdoa, batu itu bergeser sediki. Setelah orang ketiga berdoa barulah batu itu terbuka penuh sehingga mereka bisa keluar dari gua it. Iniadalah dalil izin syariat atas kebolehan berdoa denan perantara amal shaleh. Contoh yang lain adalah ucapan kita,’’ ya Allah, karena berkat shalatku ini hendaknya engkau mengampuni dosaku,’’
seseorang , ‘’ya Allah dengan berkat kemuliaan Nabi Muhammad SAW, angkatlah penyakitku ini.’’ Ini diizinkan oleh Nabi SAW, bahkan nabi SAW pernah mengajarkan cara doa seperti ini kepada salah seorang sahabat yang ingin sembuh dari kebutahannya. Nabi SAW memerintahkan untuk berwudhu’,shalat dan membaca doa berikut:

‘’ya Allah, sesungguhnya aku meminta kepada-Mu dan menghadap kepada-Mu dengan perantara Nabi-Mu Muhammad. Nabi yang penuh rahmat. Sesungguhnyaaku menghadap beserta denganmu {Muhammad} kepad tuhanku agar dikabulkan keperluanku ini. Ya Allah, terimalah safaatnya kepadaku.’’{HR Turmudzi}
Termasuk bentuk memohon kepada Allah SWT dengan perantara para Nabi adalah kisah pedang Mahsyar yang disebutkan dalam Hadits shahih. Disebutkan bahwa saat manusia menderita di padang Mahsyar, mereka mendatangi para Nabi agar memberikan syafaat di hadapan allah dan memudahkan mereka di Mahsyar, semua Nabi mulai dari Nabi Adam sampai nabi Isa menolak karena meraa tidak pantas. Hanya Nabi Muhammad SAW yang menerima permintaan mereka untuk memohon kepada Allah untuk kemudahan mereka.

Kedua, meminta sesuatu yang umumnya berhasil dengan perantara makhluk. Contohnya diperolehnya rizki melalui bekerja, makanan pokok dan buah-buahan dengan bertani dan berkebun, atau lainnya. Dalam masalahnya ini manusia tidak boleh hanya meminta kepada Allah tanpa bersaha, karena itu bentuk menyalahi sunah Allah SWT. Orang yang hanya memohon kepada Allah agar tanah menumbuhkan padi tanpa menanamnya adalah menyalahi aturan Allah SWT. Yang harus kita lakukan adalah berusaha dan saling membantu bersama makhluk disertai dengan berdoa kepada Allah agar memberikan kekuatan dam kemudahan dalam melakukannya. Hendaknya ia yakini dalam hati bahwa smua usaha itu hanyalah seba, sedangkan yang memberikan hasil adalah Allah SWT.

Meminta sesuatu yang tidak terlalu kita butuhkan kepada makhluk adalah perbuatan tercela. Seseorang fakir boleh meminta dalam tiga syarat: ia tidak mempu bekerja, tidak menyakiti orang yang diminta dengan cara memaksa dan mengulang-ulang permintaannya, dan ia tidak memiliki apa yang kebutuhannya selama sehari semalam. Nabi SAW bersabda:
Siapa yang meminta sesuatu padahal ia memiliki sesuatu yang mencukupinya, pada hakikatnya ia sedang memperbanyak bara api Jahannam. Para sahabat bertanya, ‘’wahai Rasulullah, apa yang mencukupinya  itu? Beliau SAW menjawab,’’ apa yang mencukupinya di pagi hari atau di sore hari.’’{HR Ibnu Hibban}.
Pernah seorang peminta-minta datang kepada Sayyidina Umar RA. Beliau memberikan sedekah kepadanya. Ketika diperhatikan ia menenteng keranjang yang penuh dengan gandum. Sahabat Umar RA lalu menegurnya, ‘’Engkau bukan peminta tapi pedagang!’’  Beliau memukulnya dengan tongkatnya.

Seperti halnya makruh meminta dengan lisan, makruh juga hukumnya meminta dengan penampilan. Maksudnya, berpenampilan seakan sedang butuh kepada sesuatu padahal ia berkecukupan. Rasulullah SAW murka kepada orang yang meminta-meminta hanya untuk memperbanyak harta belak. Beliau bersabda:
‘’Siapa yang meminta harta menusia untuk memperkaya diri, hakikatnya ia sedang meminta bara api neraka Jahannam. Maka terserah dia, apakah ia mau mengambil sedikit {dari bara api itu} atau mengambil banyak.’’ [HR Ibnu Majah].
Rasulullah SAW juga melarang pemberian kepada orang yang tergolong mampu atau kuat bekerja. Dalam sebuah Hadits, Nabi SAW bersabda: 
‘’tidak halal sedekah bagi orang kaya dan tidak pula orang yang memiliki kemampuan untuk bekerja.’’ {HR Turmudzi} 
Nabi SAW membaiat beberapa sahabatnya dengan syarat agar mereka tidak meminta kepada manusia. Diantara sahabat itu adalah Abu Bakar As-shiddiq, Abu Dzar Al-ghifari, Tsauban dan lainnya. Dikisahkan bahwa penah ketika salah seorang sahabat ini menunggang unta, tali kekangnya terjatuh ke tanah. Lantas ia mengambil sendiri tali itu. Ia tidak meminta tolong kepada oran lain untuk mengambilkannya karena telah berjanji untuk tidak meminta kepada siapapun.

Meminta berarti menunjukkan kehinaan diri dihadapan yang diminta, menampakkan bahwa si peminta butuh kepada yang diminta. Ini juga merupakan pengakuan atas kuasa yang diminta untuk menyingkirkan bahaya atau memberikan sesuatu yang diminta. Tidak layak kita merendahakan diri dan menunjukkan kebutuhan hanya kecuali kepada Allah SWT saja. Imam Ahmad pernah berdoa, ‘’ya Allah, aku telah wajahku dari sujud kepada selain-Mu, maka janganlah agar tidak meminta kepada selain-Mu.’’ 
Tidak ada yang dapat memberikan manfaat dan menyingkirkan bahaya kecuali hanya Allah semata. Allah SWT berfirmnan: 
‘’Jika Allah menimpakan kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika allah menghendikan kebaikan bagi kamu, maka taka da yang dapat menolak karunia-Nya.’’ {Qs Yunus: 107} .

Allah senang dimintai, dijadikan tumpuan harapan dalam semua kebutuhan menusia. Allah murka kepada orang yang tidak meminta kepada-Nya. Allah mengajak hamba-Nya untuk meminta kepada-Nya. Allah mampu memberikan semua permintaan hamba-Nya tanpa menggurangi kekuasaan-Nya sedikit pun, sedangkan mekhluk bersifat sebaliknya. Makhluk tidak suka dantidak senang jika dimintai, sebab ia tidak mampu dan juga sama-sama membutuhkan. Maka mintalah hanya kepada Allah SWT, karena tidak akan kecewa orang yang meminta kepada-Nya. 
Demikian kajian Hadis edisi kali ini. Semoga tulisn ini memberikan manfaat bagi kita semua…{*} 


Tidak ada komentar untuk "MINTALAH HANYA KEPADA ALLAH"

Berlangganan via Email