Widget HTML Atas

MENGAPA ALLAH MURKA

MENGAPA ALLAH MURKA

Bencana alam gempa bumi dan Tsunami yang belum lama ini menimpa palu dan beberapa kota lainnya yang telah menyisakan duka yang teramat dalam di hati seluruh rakyat negri ini. Dalam sekejap segalanya berubah menjadi seperti mimpi yang mengerikan. Ribuan nyawa melayang dan ribuan rumah dan gedung hancur. Ibu-ibu menangis karena putra mereka hilang tak dapat dI temukan. Anak-anak saja menjadi yatim piatu. Rasanya sulit kita bayangkan pedihnya penderitaan yang dirasakan penduduk di kota-kota ini.

Para ilmuan biasanya mengomentari peristiwa-peristiwa ini sebagai dari fenomena alam. Mereka cenderung melihat ini sebagai bencana alamtang timbul karena bermacam latar belakang. Biasanya para ilmuan tidak tertarik untuk mengaitkan bencana alam seperti Tsunami, gempa bumi, letusan gunung, banjir dan lain-lainnya dengan perilaku yang sedang marak terjadi di sebuah tempat. Bagi mereka, semua peristiwa alam punya teori yang bisa dijelaskan, dan tidak ada kaitannya dengan perjudian, perzinaan, minuman keras, dan bermacam-macam maksiat lainnya.
Kita sempat mendengar dari Khatib-Khatib shalat jum’at dan sumber-sumber lainnya bahwa sebelumnya palu tertimpa bencana, bermacam maksit yang terjadi disana. Perjudian pemujaan laut dengan mengirim sesajen dan LGBT marak dilakukan orang.

Sesuai dengan fitrah manusia, Islam melarang keras Lesbianisme, gay, Biseksual dan Trangender. Homoseksual jelas mengancam keberlangsungan umat manusia dan merupakan yang sungguh melampaui batas. Di dalam surat Asy-Syuara ayat 165-166 Allah mengingatkan, 
‘’mengapa kamu mendatangi jenis lelaki di anatara manusia. Dan kamu tinggalkan istri-istri yang dijadikn oleh Tuhanmu untukmu, bahkan kamu adalah orang-orang yang melampaui batas.’’ 
Ketika hubungan menyimpang ini dibiarkan tanpa usaha memberantasnya, maka pasti akan membuat Allah murka. Ingatlah apa yang terjadi pada kaum Sodom yang dibinasakan Allah karena karena perbuatan mereka. Namun anehnya sebagian orang meragukan catatan yang tertulis dalam Al-Quran ‘’kalau memang benar dahulu Allah menngazab kaum Sodom, mengapa Allah tidak mengazab negeri-negeri yanag melegalkan homoseksual seperti Amerika dan negara-negara lainnya.

Peringatan dan azab Allah kepada kaum Sodom ini tidak hanya tertuang dalama satu ayat saja. Allah juga menegaskan hal ini di surat Al-A’raf ayat 80-81 dan surat Aan-Namlayat 54-55. Ketika Nabi Luth mengingatkan kamnya yang suka mendatangi laki-laki untuk memenuhi nafsu mereka, kaumnya malah berkata, ‘’Usirlah Luth dan keluarganya dari negeri ini. Mereka Cuma mendakwahkan dirinya bersih.’’
Kalua sekarang kita menyaksikan perbuatan kaum Luth ini terjadi di mana-mana, sesungguhnya lebih dari 1400 tahun yang silam Rasulullah sudah mengisyaratkan kerisauan beliau melalui sabdanya, 
‘’sesungguhnya perbuatan yang paling kutakuti akan menimpa umatku adalah perbuatan yang dilakukaan kaum Luth.’’ {HR. Ibnu Majah}.
Pada hakikatnya setiap manusia dikungkung oleh dua tarikan negatif yang harus dikendalikan. Yang pertama adalah tarikan nafsu, dan yang kedua tarikan syahwat. Anggapan banyak orang bahwa kedua tarikan ini sama sebenarnya salah. Nafsu atau annafs cenderung pada ego sedangkan syahwat mengarah pada fisik atau materi.
Meurut Syekh Abdul Qodir Al-Jaelani, puncak pertumbuhan dari hawa nafsu adalah mempertumbuhkan diri sendiri. Ingatla bagaimana Firaun sesumber bawa dirinya adalah Rabb [Tuhan] yang dapat menghidupkan atau mematikan. Ego Firaun telah mendorong dia mengaku sebagai tuhan. Ketika Allah memerintahkan Musa dan Harun menghadap Firaun telah berbuat kelewat batas.

MENGAPA ALLAH MURKA
Puncak pemujaan syahwat adalah homoseksual. Kisah kaum Sodom menjadi contoh yang amat jelas yang di firmankan Allah dalaam Al-Quran. Kaum Nabi Luth tidak tertarik lagi pada lawan jenis. Lelaki tidak tertarik pada wanita dan wanita tidak tertarik pada lelaki. Dorongan syahwat pada sesama jenis tidak dapat dikembalikan lagi. Padahal, coba kita amati bagaimana allah menciptakan lelaki dan wanita agar mereka menjadi pasangan yang saling tertarik. Perhatikan isyarat Allah dalam surat An-Najm ayat 45,
‘’dan bahwasannya Diala yang menciptakan berpasang-pasangan pria dan wanita.’’ 
Al-Quran membuktikan bahwa hukuman bagi ara pemuja nafsu berbeda dengan hubungan yang dijatuhkan pada para pemuja syahwat. Firaun dan para pengikutnya di hancurkan Allah, tapi mesir masih ada sampai sekarang. Sebaliknya yang terjadi pada kaum Sodom lain lagi. Para pemuja syahwat itu ditimpa aab Allah secara masif. Bumi tempat kaum ini berpijak dihancurkan. Bahkan binatang-binatang seperti kucing, tikus dan binatang-binatang lain yang memperoleh rizkinya di bumi itu ikut musnah. Allah memusnakan semua yang ada di bumi itu sehingga tak sedikitpun yang tersisa .
Mengkin kita tahu apa yang terjadi di Pompeli dan dusun kecil yang bernama Lagetang. Pompeli di Italia menyimpan sejarah kelam. Kota ini di yakini kota maksiat yang terkena letusan gunung Vesuvius. Bencana ini membuat kota ini lenyap terkubur selama 1700 tahun. Ada juga desa yang penduduknya hampir serupa dengan kaum Sodom-Gomorah. Mereka tenggelam dalam maksiat seperti yang dilakukan kaum Nabi Luth. Akhirnya desa ini terkubur semalam tertutup puncak sebuah gunung yang agak jauh dari desa itu. Kejadian nyata yang meimpa desa Lagetang di wilayah Banjarnegara itu terjadi pada tahun1955. 
Pola siksaan dan azab yang diturunkan Allah sama. Ketika pemujaan terhadap syahwat yang terjadi di suatu tempat sudah keewat batas sehingga muncul perilaku homoseks, maka mereka yang tinggal di tempat itu hanya tinggal menunggu waktu datangnya azab Allah. Ketika menjelang kiamat, hal seperti itulah yang nanti akan terjadi. Banyak manusia yang akan kehilangan rasa malunya sehingga melakukan hubungan seksual di pinggir jalan menjadi hal yang biasa saja. Perhatikan sabda asulullah SAW berikut ini,
‘’Demi dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidak akan hancur
Umat ini hingga kaum pria mendatangi kaum wanita, lalu dia mengaulinya di jalan. Orang yang paling baik diantara mereka saat itu berkata, seandanya engkau menutupinya di belakang tembok ini.’’ 
Orang lupa dan enggan melihat bahwa sesungguhya kemaksiatan adalah pangkal kerusakan di bumi. Apa yang telah terjadi di palu dan kota-kota lainnya harus menjadi peringatan bahwa maksiat tidak boleh dibiarkan merajalela. Amar ma’ruf nai munkar harus ditegakkan apapun resiko yang kita hadapi, apabila maksiat dibiarkan terus, maka kita Cuma menunggu datngnya saat ketika Allah murka dan menurunkan azab-Nya seberapapun amar ma’ruf nahi munkar yang kita lakukan, kita tetap harus melakukannya. Ingatlah apa yang dilakukan semut ketika Nabi Ibrahim dibakar oleh raja Namrud. Semut kecil ini datang dengan mengusung setetes air. Ketika seekor burung bertanya untuk apa semut membawa air itu, semut kecil tadi itu menjawab bahwa air itu untuk memadamkan api yang akan membakar Nabi Ibrahim, khalifatullah. Semut itu juga berkata bahwa dia melakukan itu karena dia berpihak kepada Nabi Ibrahim 

Tidak ada komentar untuk "MENGAPA ALLAH MURKA"

Berlangganan via Email