Widget HTML Atas

Karomah Wali Dalam Pengobatan Non Medis

Karomah Wali Dalam Pengobatan Non Medis
Berikut ini adalah kalam habib ali Muhammad al-habsyi tentang hal-ihwal pengobatan yang dilakukan para ulama’ dan aulia’dahulu sebelum adanya pengobatan modern. Kalam beliau yang memuat hikmah dan berharga soal cara pengobatan para aulia’ di hadramaut tempo dulu ini dicatat oleh Habib Muhsin bin As-segaf dan diabadikan dalam kitab Sa’adatil Abadiyah. Berikut petikan kalam beliau:
Zaman dahulu orang mengobati penyakit dengan Nur {cahaya}. Dahulu kala Bhadahiyah adalah seorang tabib yang melakukan pengobatan dengan  cara-cara menakjubkan. Beliau belajar ilmu pengobatan dari Habib Abubakar Al-athas. Gurunya itu mengajarkan apa yang diketahuinya dan pengobatan selanjutnya ditunjang dengan Nur. Sesungguhnya obat hanyalah alat, sedangkan kesembuhan datang dari Allah SWT.
Di zaman sekarang sangat sulit mendapatkan dokter , baik dokter hati maupun dokter jasmani. Di manakah para dokter itu sekarang? Sungguh, saat ini para dokter membutuhkan dokter. Ketahuilah bahwa pengobatan penyakit hati jauh lebih penting daripada pengobatan penyakit jasmani.penyakit jasmani hanya berlangsung sebentar saja, sedangka waktu penyakit hati tidak terbatas. Ayahku Habib Muhammad bin Husein mengidap lima penyakit. Ketika penyakit hirqotul baul {gangguan saluran kencing} beliau kambuh, beliu pergi ke Jeddah untuk berobat. Beliau berkata kepada dokter yang menanganinya , 
‘’Akuakan memberikan obat kepada anda  dengan syarat anda harus meminumnya sesuai aturan, ‘’jawab sang dokter. 
‘’Baiklah yang terpenting adalah tawakkal kepada Allah,’’ kata ayahku
‘’minumlah satu tetes manakala penyakit anda sembuh. Awas! Jangan sampai lebih dari itu,’’jelas dokter. 
Setelah ayahku meninggalkan dokter tadi penyakitnya kambuh.beiau lansung meminum seluruh isi botol. Pada keesokan hariya dokter menjenguk ayahku guna memeriksa denyut nadinya.
‘’Apakah anda meminum dengan takaran yang lebih dari yang saya anjurkan?’’Tanya dokter.
‘’Ya, Aku telah meminum semuanya,’’ jawab ayahku.
Mendengar itu, sang dokter menjerit kaget seraya berkata,’’ Aku takkan lagi datang ke rumah anda. Kalau anda sehat-sehat aja setelah meminum seluruh isi botol ini, maka anda pantas menjadi dokter.’’ 
Suatu hari aku pergi ke kota Huraidhah bersama Ali bin Salim dan sejumlah lainnya. Sesampainya di Qothn kami singgah di rumah Habib Umar  al-Haddar. Beliau adalah seseorang shaleh yang tidak dikenal orang {khumul}. Pada waktu itu penyakit bawasirku sedang kambuh dan itu sangat menggangguku. Kami adalah tamu anda, oleh karena itu berilah aku obat.’’ 
‘’Hidangan yang aku berikan itu adalah obat untuk anda, makanlah sepuasnya,’’ jawab beliau.
Sejak makan jamuan yang di hidangkan Habib Umar al-Haddar peyakitku sembuh dan tidak pernah kambuh lagi. Inilah yang dinamakan pengobatan! 
Kisah yang lainnya tentang seseorang  musafir yang menderita suatu penyakit para yang membuat para dokter putus asa untuk mengobatinya. Seorang shaleh berkata kepadanya,
‘’Penyakitmu tidak akan sembuh keculi dengan mengkonsumsi makanan yag benar-benar halal.’’ Dengan penasaran, ia kemudian bertanya kepada orang shaleh tadi tentang adanya makanan yang benar-benar halal. Orang shaleh itu menjawab,’’ Di Hadramaut.’’ 
Musafir itu segera bertolak ke Hadrmaut sesuai dengan orang shaleh tadi. Sesampainya di tujuan, ia segera bertanya-tanya kepada warga siapa orang shaleh terkemuka di lembah Hadramaut saat itu. Orang-orang menjawab bahwa sosok yang dimaksud adalah Syech Abubakar bin Salim. Tetapi Syech Abubakar bin Salim menyuruhnya untuk menemui muridnya yang bernama Habib Abdurrahman bn Muhammad al-Jufri dikota Taris.
Musafir  itu melaksanakan perintah Syech Abubakar bin Salim dan pergi ke kota Taris. Sesampainya disana ia berjumpa dengan seorang petani yang sedang bekerja di ladangnya. Ia langsung menebak, mungkian petani itu adalah pembantu Habib Abdurrahman bin Muhammad al-Jufri yang ia cari. Ia duduk di dekat petani itu untuk mengajaknya berbincang-bincang.memasuki waktu shalat,musafir itu bangkit untuk melaksanakan shalat sementara petani tadi tetap asyik menggarap sawahnya sampai waktu shalat hamper habis. 
Dengan perasaan heran, musafir itu mengamati gerak-gerik sang petani. Merasa diamati, petani langsung melemparkan pertanyaan,’’ Apa yang kamu inginkan dari Abdurrahman al-Jufri?’’ Musafir itu kemudian mengutarakan maksud kedatangannya ke kota Taris. Ia menjelaskan bahwa ia datang atas perintah Syech Abubakar bin Salim. Petani itu kemudian berkata,’’ Aku adalah Abdurrahman al-Jufri. Perintah guruku aku terima. Ambillah daun qadh ini. Sebagian orang menamakannya daun Barsim. Makanlah dedaunan ini sampai kenyang, dengan begitu insya Allah kamu akan sembuh.’’
Musafir itu segera memakan dedaunan sampai kenyang. Kemudian Habib Abdurrahman menyuruhnya berjalan jalan sejenak. Musafir itu melaksanakan perintah itu dengan berjalan beberapa langkah. Tidak lama kemudian perutnya terasa sakit dan ia pun buang air besar itulah seluruh penyakit yang ada diseluruh tubuhnya keluar. Ia segera mendekati Habib Abdurrahman untuk mengucapkan terimakasih atas kesembuhanya. Selanjutnya Habib Abdurrahman mengajak musafir itu ke rumah beliau untuk menikmati jamuan makanan. Memang beliau dikenal sangat senang menjamu dan memuliakan tamu.setelah jamuan itu selesai, musafir itu memohon diri untuk pulang seraya memberikan beberapa dinar kepada Habib Abdurrahman sebagai hadiah karena telah menyembukannya.  
Habib Abdurrahman menolak pemberian itu.’’kamu lebih membutuhkannya,’’ kata beliau. Namun musafir itu bersikukuh untuk memberikan uangnya kepada beliau. Kemudian Habib Abdurrahman mengusap kedua mata lelaki itu dengan tangannya. Seketika itu ia menyaksikan gunung dihadapannya menjadi emas yang berkilauan. 
‘’Apayang kamu saksikan?’’ Tanya Habib Abdurrahman.
Musafir itu pun mengatakan apa yang dilihatnya dengan perasaan takjub.
‘’ Alhamdulillah, aku hidup dalam keadaan serba kecukupan. Aku bertani hanya untuk menutupi keadaanku dan mencari rezeki yang halal,’’ jelas Habib Abdurrahman. 
‘’Tetapi aku memendam tanya didalam hatiku,mengapa ketika waktu shalat hamper berlalu anda masih beraktivitas?’’Tanya musafir
Mendapat pertanyaan itu, Habib Abdurrahman langsung mengajaknya masuk ke tempat ibadah beliau yang berjumlah Sembilan. Pada masng-masing tempat, musafir itu melihat sosok Habib Abdurrahman sedang melaksanakan shalat. Musafir itu meminta maaf dan mengucpkan terimakasih atas kebaikan Habib Abdurrahman. Ia kemudian pulng ke negara asalnya dalam keadaan sehat wal ‘afiat    . ceita di atas merupakan Karomah Wali dalam Pengobatan Non Medis .
   



Tidak ada komentar untuk "Karomah Wali Dalam Pengobatan Non Medis"

Berlangganan via Email