Widget HTML Atas

Cerita umair bin Saad




Cerita Umair bin Saad
Assalamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh Sahabat MadSuk mau membahas cerita bagaimana para sahabat Rasulullah bersodaqoh
Umairbin Saad adalah salah satu orang yang beruntung dalam sejarah kehidupan lantaran mendapat tarbiah langsung dari Baginda Nabi SAW. Beliau mereguk ilmu langsung dari sumbernya, kemudian mengamalkannya dalam perilaku kesehariannya dengan sesempurna mungkin. Setip langkah dan gerak-geriknya senantiaa menapaki jejak Baginda Nabi SAW dan tidak pernah melenceng dari jalur itu. Oleh Karena itu, tidak mengherankan apabia jabatan gubernur di kawasan Homs tidak membuatnya menjadi orang yang kaya raya. Beliau tetap memili hidup Zuhud, miskin dan jauh dari hingar-bingar dunia. Baginya, keuksesan dan kehidupan hakiki adalah mengikuti ajaran hidup Baginda Nabi Muhammad SAW yang sempurna. 
    
Dikisahkan bahwa setelah meninggalkan jabatan sebagai gubernur Homs, beliau memilih tinggal di pinggiran kota Madinah bersama keluarganya. Beliau memegang yang prestisius ituselama satu tahun atas permintaan Amirul Mukminin  Umar bin Al-Khattab. Beliau menjalankan tugasnya dengan baik meski sebetulnya masyarakat Homs dikenal sangat kritis dan seringkali menyulitkan pihak pemerintah. Gubernur-gubernur sebelumnya tidak ada yang memerintah lama sebab tidak tahan terhadap perlakuan pendududk Homs berkat sikap istikamahnya memegang ajaran Baginda Nabi SAW. Setelah setahun menjabat, beliau kemudian ditarik lagi ke MadinahOleh Umar bin Al-Khattab.

Setela pension dari dunia birokrasi, Umar bin Saad mengsingkan diri dari hingar-bingar keramaian duniawi. Memang pada dasarnya beliau tidak menyukai popularitas dan lebih senang untuk fokus mendekatkan diri kepada Allah SWT. Tarbiah Nabawiyah betul-betul tertancap idi dalam relung hatinya sehingga tak ada keinginan lagi beginya selain menggapai kesenangan abadi di akhirat kelak. Umar bin Al-Khattab pun tergoda untuk menguji ketuludsan Umair bin Saad.

Pada suattu hari  beliau berkata kepada Al-Harits, ‘’Wahai Harits, pergilah kepada Umair bin Saad! Tinggallah di sana sebagai seorang tamu. Apabila kamu melihat taanda-tanda kenikmatan di sana, maka pulanglah seperti kamu datang Namun kamu apabila mendapatkan kehidupan yang serba sulit, maka berikanlah kepingan dinar ini kepadamu Umair bin Al-Khattab kemudian menyrhkan sekantong uang dinar kepada Al-Harits.

Maka berangkatlah Al-Harits untuk menunaikan tugas yang dikembangkan Amirul Mukminin. Ketika sampai di depan pintu rumah Umair bin Saad, beliau mengucapkan salam, ‘’Assalamu alaikum warahmatullah!’’
Umair menjawab, ‘’Wa’alaikum salam warahmatullah wabarakatuh. Dari mana kamu?’’ 
‘’Dari Madinah,’’Jelas Al-Harits.
‘’Bagaimana keadaan Muslimin di sana sewaktu amu tinggalkan?’’ Tanya Umair 
‘’Mereka baik-baik saja, ‘’jawab Al-Harits. 
‘’Bagaimana keadaan Amirul Mukminin?’’ Tanya Umair lagi.
‘’Beliau dalam kedaan sehat walafiat,’’ terang Al-Harits 
‘’Bukankah ia [Umair bin Al-Khattab] telah menegakkan hukuman Had?’’ 
‘’Benar, Beliau telah mencambuk anaknya karena telah melakukan perbuatan keji.’’ 
‘’Ya, Allah bantulah Umar karena aku tahu bahwa ia sangat mencintai-Mu,,’’ Bgitu munajat Umair.

Al-Harits tinggal selama tiga hari dirumah Umair bin Saad sebagai tamu. Setiap malam Umair menyediakan sepotong roti kecil yang terbuat dari gandum. Memasuki hari ketiga seorang laki-laki tetangga menegor Al-Harits,’’ kedatangannya hanya menyusahkan Umair dan keluarganya. Sebenarnya mereka tidak memiliki apapun selain potongan roti yang disuguhkan kepadamu. Mereka lebih mementingkan drimu daripada diri mereka sendiri. Sungguh , kemiskinan dan kelaparan telah menyulitkan keluarga itu. Apabila kamu berkenan sebaiknya kamu tinggal bersamaku saja.

Teguran lelaki itu membuat Al-Harits merasa tidak enak. Ia segera pamit kepada Umair bin Saad untuk segera kembali ke Madinah. Namun sebelum berangkat, ia menyerahkan sekantong uang dinar kepada Umair bin Saad.
‘’Apa ini?’’ Tanya Umair bin Saad dengan nada marah.
‘’Amirl mukminin menitipkannya untuk anda,’’ Jawab Al-Harits.
‘’Kembalikan semua ini kepada Umar. Sampaikan salamku untuknya dan katakana kepadanya Umair tidak membutuhkan dinar-dinar ini,’’ tukasa Umair.

Ketika mendengar percakapan mereka berdua, Istri Umair bin Saad langsung menyela, ‘’Terima saj uang itu wahai suamiku! Bila kamu sedang butuh,maka kamu bisa menggunakannya. Namun apabila kamu tidak butuh, serahkan saja kepada kaum fakir atau miskin yang banyak kita jumpai di kawasan ini.’’ 

Al-Harits meletakkan sekantong dinar itu di hadapan Umair bin Saad kemudian menuju pusat kota Madinah. Umair mengambil uang itu lalu memisahkannya ke dalam kantong-kantong kecil. Sebelum tidur malam, beliau sudah mambagi-bagikannya kepada orang-orang yang membutuhkannya, khususnya anak-anak para syuhada’. 

Sementara itu, Al-Harits yang telah sampai di kota Madinah langsung menghadap Amirul Mukminin.
‘’Apa yang kamu saksikan?’’ Tanya Umar.
‘’Kondisi yang sangat menyusahkan wahai Amirul Mukminin,’’ungkap Al-Harits
‘’Sudahkah kau serahkan dinar-dinar itu padanya?’’ Tanya Umar
Sudah, Amirul Mukminin.’’
‘’Lalu apa yan dia lakukan dengan uang itu?’’ Tanya Umar penasaran.
‘’Tidak tahu, tapi aku kira beliau sudah tidak akan menyisakan untuk dirinya.’’ Umar bin Al-khattab  segera menulis untuk Umair. Di dalam surat itu , beliau berpesan, ‘’Bila surat ini talah smpai padamu, maka jangan meletakkannya samapai kamu datang kepadaku.’’

Rupanya Umar bin Al-Khattab memerintahka Umair untuk menghadap kepadanya. Umair pun segera memacu kudanya menuju Madinah. Sesampainya di sana, Umar menyambut Umair dengan perasaan suka-cita dan menyuruhnya duduk di sampingny.
‘’kamu apakan dinar-dinar itu?’’ Tanya Umar.
‘’Apa urusan anda dengan semua itu? Bukankah anda sudah memeberikannya kepadaku?’’ jawab Umair 
‘’Aku memohon kepadamu apa yang kamu lakukan terhadap dinar-dinar itu?’’ pinta Umar.
‘’Baiklah, aku telah menyimpannya untuk diriku supaya aku bisa mengambil manfaatnyadi hari harta dan anak-anak tida berguna lagi,’’ jelas Umair. 
Mendengar perkataan itu, Umar bin Al-Khattab tidak kuasa menahan diri matanya. Dengan teriak beliau pun berkata,’’ Aku bersaksi bahwa kamu termasuk orang –orang yang lebih mementingkan orang lain meski mereka membutuhkannya.’’

Kemudian Umar mengambi dua keranjang makanan dan dua helai kain untuk di berikan kepada Umair. Dengan tegas Umair menolak pemberian itu sambil berkata,’’ Aku tidak memerlukan makanan wahai Amirul Mukminin. Aku telah meninggalkan dua karung gandum untuk keluargaku. Sebelum habis, aku yakin Allah SWT akan memberikan rejeki kepadaku. Tapi dua helai  kain ini aku terima karena pakaian istriku sudah usang sehingga saat ini ia nyaris terlanjang.’’

Umair bin saad pun memohon diri kepada Umar binAl-Khattab untuk pulang ke rumahnya di pedesaan. Dengan persaan kagum dan tercampur dengan perasaan kasihan, Umar melepas kepergia mantan gubernurnya yang berhati emas itu.


Tidak berselang lama setelah pertemuan itu, Umair bin Saad tutup usia dalam keadaan bebas dari taanggung jawab duniawai yang telah membebaninya. Begitu mendengar berita duka itu, Umar bin Al-Khattab merasa angat sedih. Sambil berteriak beliau berkata,’’ Aku berharap mempunyai orang-orang seperti Umair bin Saad yang bisa aku perbantukan untuk menunaikan tugas-tugas mengatur urusan kaum Muslimin.’’   
''semoga dengan cerita ini kawan-kawan bisa mengeluarkan sodaqohnya dengan ikhlas'' Amiin...!

Berlangganan via Email