Widget HTML Atas

Antara Islam dan Wanita


Antara Islam dan wanita
Istri enggan mematuhi suaminya. Kengganan itu bias jadi timbul karena keangkuhan, pembangkangan, atau kesombongan
Isu yang paling gencar dituduhkan musuh-musuh islam adalah tentang Emansipasi. Mereka menganggap islam tidak adil kepada kaum hawa. Beberapa hukum yang diterapkan islam dituding oleh menindas wanita. Andai mereka mempelajari lebih dalam mengenai islam, tentu mereka akan tahu bahwa tidak ada agama yang lebih memulyakan wanita daripada islam. Perlakuan baik kepada wanita sebagai ibu sangat ditekankan sehingga muncul hadits,’’ surge dibawah telapak kaki ibu .’’ perlakuan kepada wanita sebagai istri pun menjadi tolak ukur kebaikan isla seseorang. Nabi SAW pernah bersabda, ‘’Sebaik-sebaik kalian adalah yang terbaik perlakuannya terhadap istriku.’’ Perlakuan baik kepada wanita secara umum ditekankan oleh islam. Nabi SAW pernah bersabda,’’ Tidak ada yang memulyakan wanita kecuali lelaki mulya, dan tidk ada yang menghinakan wanita kecuali lelaki hina.’’

Memukul Wanita 

Isu yang paling sering ditolak atik musuh islam adalah ayat yang memperbolehkan memukul wanita. Dalam Qur’an disebutkan: 
‘’wanita-wanita yang kamu khawatirkan  nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk meyusahkanmu. Sesungguhnya Allah maha tinggi dan maha besar.’’ {Qs an-nisa’ ayat:34 } 
Yang perlu diperhatikan,ayat ini membahas sikap suami menghadapi istri yang nusyuz atau membangkang. Lantas apa yang dimaksudkan dengan nusyuz dan apa  solusi yang di tawarkan oleh ayat yang mulia ini? 
Ini menunjukkan sikap terheran-heran dan peringatan dari Rasulullah terhadap orang yang melakukan hal itu. Bagaimana seseorang tega berbuat kasar terhadap istrinya? Bagaimana menjadikan istrinya seperti seorang budak dengan memukulnya? 
Ibnu Jarir Ath-Tabhari, guru para ahli tafsir berkata, ‘’ Makna firman Allah ‘’nusyuzahun’’ adalah sikap mereka yang membangkang terhadap suami mereka, keengganan mereka melayani suami di atas ranjang, serta bantahan mereka dalam perkara-perkara yang semstinya mereka patuhi karena kebencian mereka dan Karena ketidak-patuhan mereka kepada para suami. Makna ini dinukil dari  Abdulloh bin Abbas Zaid, As-Sa’di, Atha’, dan imam-imam terkemuka lain.’’
Jalan keluarnya harus sesuai dengan urutan yang ada pada ayat di atas, dimulai dari nasihat, lalu pisah ranjang. Jika belum patuh, maka alternatif yang terakhir yaitu dengan pukulan ringan. Firman Allah ‘’Maka nasehatilah mereka {para istri}…’’ Maksudnya ingatkan mereka terhadap ancaman Allah bagi yang melakukan larangan-Nya. Dalam hal larangan mendurhakai suami dalam perkara  yang semstinya dipatuhi.

Banyak sekali pendapat yang muncul dalam menafsirkan kata ‘’pisahkan mereka di tempat tidur mereka’’ pada ayat ini. Ada yang berpendapat tidak melakukan hubungan suami-istri, tetapi masih di atas satu Kasur {beradu punggung ketika tidur}. Ada yang berpendapat  tidak tidak bercakap-cakap sengan istri ketika istri tidak mau melayani suami sampai ia mau melayaninya. Ada yang berpendapat pisah ranjang dalam arti yang sebenarny, yaitu tidak tidur satu kamar. Namun semua ulama’ bersepakat bahwa pemisahan hanya terjadi dalam satu rumah. Seseorag suami tidak boleh meningalkan rumahnya secara total. Rasulullah SAW bersabda: ‘’ Suami tidak boleh memisahkan diri selain dalam rumah.’ Firman Allah ‘’Dan pukullah mereka…’’ adalah jalan keluar terakhir. Semua ahli tafsir berspakat bahwa pukulan yang dilakuakan adalah pukulan ringan. Mereka mencontohkan  pemukulan dengan menggunakan kayu siwak atau semisalnya. Inilah makna ayat di atas. Oleh karena itu, perlu kita perhatikan beberapa perkara berikut: istri enggan mematuhi suaminya. Keengganan itu bias jadi timbul karena keangkuhan, pembangkangan atau kesombongan. Tentu hal ini selama suami tidak menyuruh berbuat maksiat atau membebaninya di luar kemampuannya. Jika Allah tidak membebani hambanya di luar kemampun mereka, bagaimana dengan seorang hamba-nya ketika meminta sesuatu dari sesamanya? Masalahnya bukan seperti yang dibayangkan oleh semua orang. Gambarannya bukan seperti seorang wanita yang kurus kering dan kerempeng yang diperlakukan dengan kasar. Gambaran seperti ini tidak bole dilakukan dalam undang-undang manapun dan hanya ada dalam khayalan pembangkang. Syariat Allah sangat tidak melegalkan hal ini.

Dalam hal ini kita berada dalam program terapi secara bertahap, di mulai dengan nasehat dan diakhiri dengan pukulan ringan yang dicontohkan siwak atau semisalnya. Kayu siwak adalah kayu kecil yang biasa digunakan untuk menggosok gigi. Memukul dengan kayu ini tidak akan menyakitkan sebab memang tujun pemukulan ini bukan menyiksa tapi memberikan pelajaran.

Hadits lain menjelaksan bahwa cara yang baik dan utama adalah tidak memukul istri. Ada beberapa hadis yang menunjukkan hal ini. Di antaranya hadits yang diriwayatkan oleh yang dikumpulkan Muslim dari Ummul Mukminin, Aisyah. Ia berkata : ‘’ Rasulullah tidak pernah memukul perempuandan pelayan dengan tangannya. Beliau tidak pernah kecuali berjihad di jalan Allah.’’ {HR Muslim 6195}.
Sesungguhnya Allah telah memilih perilaku yang baik, paling sempurna dan yang paling utama di jalan Allah. Dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh Imam Bukhri dari Abdullah bin Zam’ah bahwa rasulullah SAW bersabda: ‘'bagimana pula seorang dari kamu tega memukul istrinya seperti memukul unta kemudian memeluknya {baca: Menggaulinya}

Ini menunjukkan sikap terheran-heran dan peringatan dari Rasulullah terhadap orang yang melakukan hal itu. Bagaimana ia tega berbuat kasar terhadap istriya? Bagaimana ia tega menjadikan istrinya seperti seorang budak dengan memukulnya? Oleh karena itu Ibnul Jauzi berkata,’’ hendaknya setiap orang mengetahuinya bahwa seorang yang tidak dapat mengambil manfaat dari janji dan ancaman Allah, ia juga tidak akan jeradengan cambuk. Boleh jadi kelembutan lebih efektif dari pada pukulan,  karena pukulan itu membuat hati berpaling. Dalam sebuah Hadits disebutkan, ‘’kenapa salah seorang dari kamu memukul istri seperti hamba sahaya, padahal ia menggaulinya di penghujung malam.’’{ Ahkam An-nisa’ : 82}.

Rasulullah SAW bersabda: 
‘’Sesungguhnya telah banyak perempuan yang mendatangi keluarga Muhammad mengadukan perilaku suami- suami mereka. Mereka {para suami} itu bukan yang terbaik di antara kamu.’’{HR Abu Daud 2148}. 
Rasulullah SAW bersabda:
‘’Hanya orang-orang yang jahat dari kamu yang akan memukul.’’{Jami’ al Ahadits 357}.
Kesimpulannya, pukulan ringan  merupakan salah satu cara dalam mencari penyelesaian. Hukuman ini pantas untuk lingkungan tertentu dan untuk orang-orang tertentu. Ini seperti obat yang pahit, sehingga orang yang baik dan merdeka hendaknya tidak menggunakan cara ini. Di antara kesempurnaan syariat islam yang ada di setiap tempat dan waktu adalah dengan aturan yang sempurna sehingga tidak digunakan semena-mena oleh suami untuk menghukum istrinya.

Pembagian Waris 

Isu lain yang ditebarkan musuh islam adalah mengenai pembagian waris bagi wanita. Mengapa dalam islam jatah seorang laki-laki lebih banyak dari pada seorang permpuan?  Kita harus memahami bahwa Al- qur’an mengandung panduan yang spesifik dan terperinci mengenai pembagian harta warisan. Ayat-ayat Al-Qur’an yang memuat panduan dan pembagian harta warisan adalah: Surat Al-Baqarah :18, Surat Al-Baqarah:240, Surat An-nisa:19, Surat An-nisa’:33 danSurat Al-Maidah :106-108. 
Dlam kebanyakan kasus, seseorang perempuan mewarisi setengah dari bagian laki-laki. Tapi keadaannya tidak selamanya begitu. Dalam hal orang yang meninggal tidak meninggalkan orang tua atau anak etapi meninggalkan sudara lai-laki dan saudara perempuan, maka masig-masing saudara mewarisi seperenam bagian. Jika yang meninggal meninggalkan anak, kedua orang tua yaitu ibu dan ayah mendapat bagian yang sama, yakni seperenam. Dalam kasus tertentu, seorang perempuan bias mewarisi dua kali bagian lebih banyak ang diperoleh aya.

Memang benar bahwa biasanya dalam sebagian besar kasu, perempuan mewarisi setengah dari yang diperoleh laki-laki misalnya dalam kasus sebagaI berikut: anak perempuan yang mewarisi setengah dari yang diperoleh anak laki-laki. Istri mewarisi 1/8 dan suami ¼ jika yang meninggal meninggalkan anak. Istri mewarisi ¼ dan suami ½ jika yang meninggal tidak meninggalkan anak. Jika yang meninggal tidak punya orang tua atau anak, saudara perempuan mewarisi setengah bagian dari yang diperoleh saudara laki-laki. Penting diingat bahwa orang laki-laki mewarisi dua kali lebih banyak dari perempuan Karena dia menopang kehidupan keluarga.

Dalam islam, perempuan tidak punya kewajiban untuk menyangkut keuangan. Tanggung jawab perekonomian dipikul oleh laki-laki. Sebelum wanita menikah, nafkahnya menjadi tugas ayah menyangkut okomodasi, rumah, pakaian dan berbagai kebutuhan keuangan yang lain. Setelah seorang perempuan menikah, tugas itu menjadi tanggung-jawab laki-laki atau suami.
Islam mewajibkan laki-laki untuk bertanggung- jawab mencukupi kebutuhan keluarga. Agar memenuhi tanggung-jawabnya, laki-laki memperoleh dua kali bagian lebih banyak dala waris. Misalnya jika seorang laki-laki meninggal dengan maninggalkan uang sekitar Rp150.000,- untuk anak-anaknya {misalnya seorng anak laki-laki dan seorang anak perempuan}. Anak laki-lakinya mewarisi Rp100.000,- dan anak perempuannya hanya Rp50.000,-. Dari uang Rp100.000,-yang diterima anak laki-laki itu, maka sebagai kewajiban terhadap keluarganya, bias saja dia membelanjakan hamper seluruh bagian warisan atau katakanlah sekitar Rp80.000,- sehingga dia Cuma menikmati sedikt dari warisan itu,

yakni Rp20.000,- Sementara itu si anak perempuan yang mewarisi Rp50.000,- tidak wajib mengeluarkan sepeser pun untuk siapapun. Dia boleh menyimpan semua warisannya untuk dirinya sendiri. Apakah anda lebih suka mewarisi Rp100.000,- dan membelanjakannya Rp80.000,- atau mewarisi Rp50.000,- dan menyimpan uang itu utuk diri sendiri? 
Dua contoh di atas kiranya jelas menunjukkan kebijakan syariat islam. Yang harus diketahui, keadilan bukan berarti memberikan semua orang secara merata, tetapi membagi bagian setiap orang sesuai dengan kebutuhannya.
begitulah Antara Islam dan Wanita mempunyai ketrikatan.






[

Tidak ada komentar untuk "Antara Islam dan Wanita "

Berlangganan via Email