Widget HTML Atas

Paman Nabi Muhammad Sayyidina Hamzah

Salah satu nama yang sangat melegenda dalam sejarah islam adalah Sayyidina Hamzah bin Abdul Muthallib adalah paman Baginda Nabi Muhammad SAW yang dikenal pemberani dan disegani masyarakat Quraisy. Setelah masuk islam, beliau senantiasa berada di depan untuk membela Baginda Nabi SAW. Bahkan beliau pernah memukul Abu Jahal sampai berdarah-darah di depan orang-orang Quraisy karena ia berani menghina Nabi. 



Berdirinya Hamzah di barisan muslimin membuat kaum kafir cemas. Mereka merencanakan berbagai upaya untuk melenyapkan sang perwira, sampai tibalah pertempuran di bukit Uhud yang kelabu. Hamzah menjadi target utama serangan tombak yang sudah dirancang para petinggi Quraisy. Mereka pun sukses dan singa Allah itu gugur oleh tombak yang dilemparkan oleh seorang budak yang bernama Wahsyi. 

Imam Al-Hakim meriwayatkan bahwa Sayyidina Abdullah bin Abbas pernah berkata, “Sesungguhnya Hamzah gugur dalam keadaan masih junub (hadats besar). Kemudian Rasulullah SAW bersabda, ‘Ia (Hamzah) telah dimandikan oleh malaikat.” 

Imam al-Baihaqi pernah meriwayatkan dari Imam al-Waqidi bahwa Fatimah al-Khuzaiyah pernah berkisah, “ Aku pernah berziarah ke makam Hamzah dan aku ucapkan salam kepadanya. Tiba-tiba kudengar jawaban salam dari dalam kubur beliau, ‘Waalaikum Salam Warahmatullah.”’

Dalam kitab Al-Baqiyatus shalihat, Syekh Mahmud al-Kurdi as-Syaihani mengisahkan pengalamannya berkunjung ke Madinah, “ Tatkala aku berziarah ke makam Sayyiadina Hamzah, aku mengucapkan salam kepada beliau dan kudengar  jawaban salam dari dalam makamnya. Kemudian beliau menyuruhku memberi nama putraku yang akan lahir dengan nama Hamzah. Maka aku pun memberi nama Hamzah untuk putrku itu. Ketika berziarah ke makam Rasulullah SAW, aku juga mengucapkan salam di depan makam. Lalu aku mendengar dengan jelas jawaban dari beliau.” 

Sementara itu, Syekh Ahmad bin Muhammad ad-Dimyathi yang dikenal dengan nama Syekh Ibnu Abdil Ghani bercerita tentang perjalanannya menunaikan ibadah haji di Mekkah. Berikut kisahnya: 
Aku pernah menunaikan ibadah haji bersama ibuku di tahun yang teramat panas sekali. Aku membeli dua ekor unta sebagai modal transportasi kami dari Mesir menuju Mekkah. Sesuai melaksanakan manasik haji, kami bertolak ke Madinah. Sesampainya di Madinah, kedua unta yang kami kendarai mati bersamaan, padahal aku tidak punya uang lagi untuk membeli unta atau menyewa unta untuk kendaraan pulang. 

Tentu musibah ini membuatku sangat sedih. Kemudian aku pergi menghadap Syekh Shafiyuddin al-Qashashi seorang lelaki yang dikenal shaleh. Aku mengadukan persoalan pelik yang menimpaku kepadanya.” Aku akan terus tinggal di Madinah sampai Allah SWT memberikan jalan bagiku untuk pulang ke Mesir,” kataku kepadanya dengan nada sedih.

Mendengar panduan itu, Syekh shafiyuddin diam sejenak sebentar kemudian berkata kepadaku, berziarah kepadaku, “ Berziaralah ke makam Sayyidina Hamzah bin Abdul Muthallib, paman Nabi SAW. bacalah Al-Qur’an di samping makamnya, kemudian adukan musibah yang menimpamu kepada beliau seperti kamu mengadukannya kepadaku saat ini.”

Perintah ini  segera aku laksnakan. Aku pergi ke makam Sayyidina Hamzah bin Abdul Muthalib dan membaca Al-Qur’an di samping makamnya, setelah membaca Al-Quran, aku mengadukan musibah yang menimpaku kepada beliau. Sebelum dhuhur aku sudah berada di masjid Nabawiy. Sewaktu aku memasuki tempat wudhu di Babur Rahmah, kujumpai ibuku di dekat situ. Beliau berkata, “ Di sini tadi ada seorang lelaki menanyakan perihal dirimu. Sebaiknya segera temui dia.” 
“Di mana lelaki itu sekarang?” Tanyaku.Mungkin masih di belakang masjid,” jawab ibuku. Aku segera melangkahkan kaki menuju belakang masjid untuk mencari lelaki yang dikatakan ibuku. Di situ kujumpai lelaki berjenggot putih dan terlihat penuh karisma. Begitu melihatku, lelak itu langsung memberi sambutan akrab, “Marhaban wahai Syekh Ahmad! Berangkatlah kamu ke Mesir!” 
“ Bersama siapa aku mesti berangkat?” Tanyaku keheranan.“ Ikutlah bersamaku sekarang!” 
Lelaki itu membawaku ke tempat transit rombongan jama’ah haji dari Mesir. Kemudian ia menemui orang yang biasa menyewakan unta untuk jama’ah haji. Ia membayar ongkos sewa unta untuk mengantarkanku bersama ibuku ke Mesir. Setelah membayar ongkos sewa, ia duduk dan menyuruhku memanggil ibuku serta membawa perbekalanku. Aku pun segera menjemput ibuku dan membawa perbekalanku ke perkemahan rombongan Haji ke Mesir. Ia menyampaikan pesan kepada penyewa unta agar menjaga kami selama di perjalanan. Sesudah itu, ia melafalkan surat Al-fatihah dan pergi ke masjid Nabawi, sementara aku membuntutinya di belakang.

Sesampainya di depan geerbang masjid Nabawi, ia berkata kepadaku, “Masuklah terlebih dulu, nanti aku menyusul.” Aku masuk ke dalam masjid dan menunggunya sampai tiba waktu salat berjama’ah. Lelaki itu tak kunjung datang meski pun cukup lama aku menunnggu didalam masjid. Karena lama tak muncul, akhirnya aku pergi mencarinya di seluruh kawasan masjid. Ternyata dia tidak bisa kutemukan. Setelah letih mencari, akhirnya aku terpaksa pergi ke tempat persewaan unta. Aku bertanya kepada pemilik unta tentang laki-laki dermawan itu dan tempat tinggalnya.

Jawaban pemilik unta sungguh mengejutkanku, “aku belum pernah mengenal lelaki itu sebelumnya dan aku sama sekali tidak tahu tempat tinggalnya. Tapi ketika ia datang kesini, aku merasa sangat kagum dengan kepribadiannya yang sangat hebat,”begitu jelasya. Kemudian aku berupaya mencarinya di semua penjuru kota, namun tidak juga aku menemukannya. Akhirnya aku menyerahdan pergi menghadap Syekh Shafiyuddin untuk menceritakan peristiwa ajaib yang baru aku alami. Usai mendengar kisahku, Syekhh Shafuyuddin berkata, “itu adalah ruhaninya Sayyidina Hamzah bi Abdul Muthalib yang datang menolongmu.”


Kemudian aku kembali ke perkemahan dan berangkat ke Mesir bersama rombongan. Dalam perjalanan, aku dan ibuku dilayani oleh sang penyewa unta dengan sangat baik. Belum pernah kami dilayani sebaik ini, baik dirumah sendiri mau pun dalam perjalanan. Tentu saja kenikmatan ini berkat karomah Sayyidina Hamzah bin Abdul Muthalib.

Imam Al-Barjanji meriwayatkan bahwa Syeikh Said bin Ibrahim al-Kurdi pernah berziarah ke Madinah bersama jama’ahnya. Waktu itu penduduk punya tradisi bersama-sama ke makam Sayyidina Hamzah setiap tanggal 12 Rajab. Namun Syekh Said berziarah sebelum tanggal itu dan ternyata disana sudah ada sebagian penduduk Madinah yang tinggal disekitar makam Hamzah.

Pada malam harinya rombongan Syekh Said beristirahat dan tertidur di dekat Hamzah. Sementara itu, Syekh Said tidak tidur karena menjaga rombongan dan perbekalan mereka. Ditengah malam, Syekh Said melihat seorang Ksatria yang berkali-kali mengelilingi rombongan. Mulanya Syekh Said diam saja, namun karena di dorong rasa penasaran, akhirnya ia memberanikan diri menyapa Ksatria malam itu.
“Siapakah tuan ini?”
“Kenapa kamu bertanya ihwal diriku?” Jawaban Ksatria itu. “Mengapa kamu berjaga malam, padahal aku menjaga kalian disini? Bukankah perbuatanmu menyinggung hatiku? Aku adalah Hamzah bin Abdul Muthalib,”pungkasnya. Setelah berkata begitu, ksatria itu menghilang di tengah gelapnya malam.

Tidak ada komentar untuk "Paman Nabi Muhammad Sayyidina Hamzah "

Berlangganan via Email