Widget HTML Atas

Tiga Cinta yang Tak Terpisah


Ada sebuah pandangan keliru pada sebagian orang yang tidak memahami agama dengan benar. Kekeliruan semacam itu kerap terjadi pada orang-orang yang minim ilmu agama atau mendapat ilmu agama dari sumber yang kurang kompeten. Mereka menganggap kecintaan kepada Allah berarti melupakan selain Allah. Anggapan semacam ini jelas keliru. Bagaimana seharusnya mencintai Allah dengan benar?

Mencintai Allah adalah mencintai apa pun yang di cintai oleh Allah dan membenci semua apa yang dibenci oleh Allah subhanahu wata’ala. Pernyataan cinta kepada Allah namun benci pada hal-hal yang dicintai oleh Allah adalah pernyataan dusta. Sama halnya dengan pengakuan cinta kepada Allah namu gemar melakukan perbuatan yang dibenci oleh Allah adalah pengakuan bohong.

Cinta kepada Allah ta’ala harus dibuktikan dengan mencintai Nabi Muhammad SAWkarena Baginda Nabi adalah makhluk yang paling dicintai Allah subhanahu wa ta’ala, Rasulullah SAW bersabda:

يَغْدُو كُمْ بِهِ مِنْ نِعَمِهِ و اَحِبُّونِي بِحُبِّ اللهِ وَاَحِبُّوا اَهْلَ بَيْتِيْ بِحُبِّيْ  حِبُّوا الله لِمَا

Cintailah Allah karena nikmat-nikmat-Nya yang kalian nikmati.

Cintailah aku (Rasulullah) sebagai bukti cinta kalian kepada Allah. Dan cintailah Ahlu Baitku sebagai bukticinta kalian kepadaku.” (Sunan At Tarmidzi: 3789).

Cinta kepada Allah merupakan kewajiban yang wajib ditanamkan dalam hati seorang muslim. Tidak dapat dipungkiri bahwa semua yang kita miliki  merupakan nikmat pemberian Allah yang tidak mampu kita hitung,

وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا ۗ

Kalau kalian hitung nikmat Allah, Niscaya kalian tak akan mampu menghitungnya.” (QS. An Nahl-18).

Dapat disimpulkan bahwa cinta kepada para Nabi dan Rasul, cinta pada para malaikat, cinta kepada para shalihin dan hal-hal yang berorientasi pada ketaatan pada Allah, pada hakikatnya adalah bentuk dari cinta kepada Allah.

Memang,  para Nabi,  dan Rasul dan para shalihin adalah manusia. Namun mereka telah dipilih Allah menjadi manusia istimewa. Mereka memilih keutamaan yang tidak dimiliki oleh manusia pada umumnya. Anggapan bahwa para Nabi dan rasul hanya manusia biasa adalah keliru. Al Qur’an menceritakan kisah Nabiyullah Nuh Alaihissalam yang beranggapan bahwa Nabi Nuh taka da bedanya dengan mereka. Firman Allah dalam surat Hud'

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَى قَوْمِهِ إِنِّي لَكُمْ نَذِيرٌ مُبِينٌ (25) أَنْ لَا تَعْبُدُوا إِلا اللَّهَ إِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ أَلِيمٍ (26) فَقَالَ الْمَلأ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَوْمِهِ مَا نَرَاكَ إِلا بَشَرًا مِثْلَنَا وَمَا نَرَاكَ اتَّبَعَكَ إِلا الَّذِينَ هُمْ أَرَاذِلُنَا بَادِيَ الرَّأْيِ وَمَا نَرَى لَكُمْ عَلَيْنَا مِنْ فَضْلٍ بَلْ نَظُنُّكُمْ كَاذِبِينَ (27) }

Dan sesungguhnya kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, (dia berkata), “ Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang nyata bagi kalian tidak menyembah selain Allah. Sesungguhnya aku takut kalian akan ditimpa azab(pada) hari yang sangat menyedihkan.” Maka berkatalah pemimpin-pemimpin yang kafir dari kaumnya,” kami tidak melihat kamu melainkan ( sebagai ) seorang manusia ( biasa ) seperti kami, dan kami tidak melihat orang-orang yang mengikuti kamu melainkan orang yang hina-hina di antara kami yang lekas percaya saja, dan kami tidak melihat kalian memiliki sesuatu kelebihan apa pun atas kami. Bahkan orang yakin bahwa kalian adalah orang-orang yang dusta.” (QS. Hud 25-27).

Ada pula yang membeda-bedakan antara satu Rasul dengan rasul yang lain. Hal ini dibantah secara tegas dalam firman Allah:

بَيْنَ اَحَدٍ مِّنْ رُّسُلِهِ  لاَ نُفَرِّقُ

Tidaklah kami membeda-bedakan antara Rasul-Rasul utusan Allah.”
Kecintaan kepada Nabi SAW harus diwujudkan dengan peneladanan atas-atas sunnah-sunnahnya, akhlaknya, perkataan dan perbuatannya. Hal itu dinyatakan dalam Al Qur’an,
قُلْ اِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللهَ فاَ تَّبِعُوْنِيْ يُحْبِبْكُمُ اللهُ
Katakanlah  ( wahai Nabi Muhammad ), bila kalian mencinta Allah ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai kalian.”

Demikian pula hanya dengan para malaikat. Setiap Muslim harus memuliakan dan menghormati mereka. Dalam surat Al Baqarah ayat 98 Allah SWT berfirman:

مَنْ كَانَ عَدُوًّا لِلَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَرُسُلِهِ وَجِبْرِيلَ وَمِيكَالَ فَإِنَّ اللَّهَ عَدُوٌّ لِلْكَافِرِينَ

Barang siapa memusuhi Allah dan para malakat-Nya dan para utusan-Nya, Jibril dan Mikail, maka sesungguhnya Allah adalah musuh bagi orang-orang kafir.”

Para ulama mengatakan bahwa menghina, melecehkan, merendahkan para NNabi dan Malaikat bisa mengakibatkan kemurtadan. Cinta kepada Allah dan Rasul-Nya hendaknya dibuktikan pula dengan mencintai para shalihin. Orang-orang shaleh adalah ibarat cahaya yang dapat mambimbing kita menuj jalan yang diridhai Allah dan Rasul-Ny. Siapakah para shalihin ini? Para ulam memberikan gambaran:

القا ئم بحقوق الله وعباده

Mereka adalah orang-orang yang menunaikan hak-hak Allah dn hamba-hamba-Nya.”

Keshalehan seorang bukan dinilai dari pakaian atau nama besarnya, namun diukur dari konsekwensinya dalam menjalankan ketaatannya pada syariat Allaah dan akhlaknya para hamba Allah yang lain.

Kecintaan kepada Baginda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam harus dibuktika dengan mencintai Ahli baitnya juga. Dalam hal ini Ahli Bait adalah mereka yang punya hubungan kekerabatan dengan Nabi,

قُلْ لاَ اَسْاَلُكُمْ عَلَيْهِ اَجْرًا إِلاَّ الْمَوَدَّةَ فِي الْقُرْبَى  

“Katakanlah (wahai Nabi ): tidaklah aku meminta upah apapun dari kalian karena menyampaikan ajaran Islam ini kecuali cintailah kerabatku…”

Dari rasulullah shallallhu’alaihi wasallam lahir putra-putri beliau. Dari ketujuh putra-putrinya, Sayyidah Fatimah menurunkan anak-cucunya sampai sekarang. Mereka itulah Ahli Bit Rasulullah yang di zaman sekarang lazim disebut Habib atau Syarif.
Sayyid Abdurrahman Ad Diba’i menyebutka keutamaan Ahli Bait dalam sebuah untaian syair yang indah,

Ahli rumah nabi pilihan yang disucikan. Mereka itu pengaman bumi, maka ingatlah.

شُبِّحُوْا بِاْلآنْجَمِ الزُّهُرِ مِثْلَماَ قَدْ جاَءَ فِى السُّنَنِ

Mereka itu bagaikan bintang gemerlapan.
Perumpamaan itu telah benar-benar datang di dalam hadits Nabi.

وَسَفِيْنُ للنَجاَةِ اِذَا خِفْتَ مِنْ طُوْفاَنِ كاُلِّ اَذَى 

Dan bagaikan bahtera penyelamat ketika
Engkau takut topan badai segala duka.
Sebagian orang yang kurang memahami agama mengaku cinta kepada Ahli Bit, namun mereka berani mencaci istri-istri Nabi dalih bahwa yang dimadsudkan dengan Ahli Bait Nabi hanyalah Ahlul kisa’.
Ini jelas keliru karena Ahlul Kisa’hanya lima orang yakni Rasululllah, Sayyidah Fatimah, Sayyidina Ali, Saayyidina Hasan dan Sayyidina Husein. Ahlul Bait adalah smua orang Mukmin yang punya hubungan kerabat dengan Nabi, termasuk paman, bibi dan istri-istri Nabi. Para istri Nabi merupakan ibu seluruh umat Islam. Hal ini dinyatakan Allah dalam Al Qur’an:
النَّبِيُّ أَوْلَىٰ بِالْمُؤْمِنِينَ مِنْ أَنْفُسِهِمْ ۖ
Nabi adalah manusia yang paling utama diantara orang-orang mukmin daripada diri mereka. Istri-istri Nabi adalah ibu bagi mereka.”( Al Ahzab ayat 6 ).
Orang yang mengaku cinta kepada Nabi tapi membenci istri-istri Nabi adalah pendusta. Begitu juga bagi orang yang mengaku cinta Nabi namun mencari anak- cucu Nabi SAW.
Ada sebuah kisah menarik yang terjadi di masa sahabat. KIsah ini dialami oleh Zaid Bin Tsabit. Beliau adalah rujukan utama yang bila ada yang ingin bertanya tentang Al Qur’an. Di masa Khalifah Utsman Bin Affan, beliau menjadi ketua tim penyusun  mushaf Al Qur’an suatu hari ketika ia sedang mengendarai seekor hewan, beliau mengalami kesulitan mengendalikan hewan itu.  Ibnu Abbas yang kebetulan melintas di depannya membantu Zaid mengendalikan hewannya. Lalu Zaid berkata,” Biarkan saja hewan itu wahai anak paman Rasulullah.” Ibnu Abbas menjawab,” Beginilah kami diperintahkan oleh Rasulullah menghormati ulama kami.” Lalu Zaid menjawab,” kalau begitu berikan tanganmu padaku.” Ibnu Abbas memberika tangannya dan Zaid menciumnya seraya berkata,” Begitulah caranya kami diperintahkan Rasulullah SAW untuk menghormati keluarga Nabi kami.”
Diriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda:
اَلنُّجُوْمُ اَماَنُ لأَهْلِ السَّماَء وَاَهْلُ بَيْتِي اَماَنُ لأَهْلِ الأَرْضِ 
“ Bintang-bintang adalah keamanan bagi penduduk langit. Sedangkan Ahli Baitku adlah keamanan bagi bumi.” 
Semua cinta yang disebutkan di atas, pada hakikatnya adalah wujud dari cinta kepada Allah subhanahu wa taala

“Semoga dari cerita ini dapat menginspiasikan kita cinta kepada Allah dan Rasul melebihi cinta kepada diri kita sendiri”.



2 komentar untuk "Tiga Cinta yang Tak Terpisah"

  1. Aamiin....
    Terimakasih Mas Sukron, atas ulasannya....

    BalasHapus
  2. sama-sama mudah - mudahan menjadi manfaat untuk kita .amiin

    BalasHapus

Posting Komentar

Tulisan merupakan Implementasi dari jadi diri, berkomentarlah dengan bahasa yang baik dan benar !

Berlangganan via Email