Widget HTML Atas

Adab: Menjaga Lisan




Assalamualaikum Sahabat MadSuk .com gimana kabar hari ini? Semoga selalu di beri kesehatan sama Allah SWT 

Banyak peristiwa berbahaya dalam kehidupan ini yang awalnya dicu oleh ketidak hati-hatian orang dalam menjaga lisannya. Tanpa mempertimbangan resiko yang mungkin timbul , kita suka mengucapkan sesuatu yang tidak ada gunanya dan bahkan cenderung untuk menyakiti orang lain. Adakalanya kita bergurau dengan menyindir teman bicara kita, dan tanpa kita sadari ternyata itu telah menyinggung perasaan dan membuat orang lai sakit hati. Betapa indahnya hadits Nabi yang mengingatkan agar kita selalu mengatakan yang baik atau diam. Nabi mengingatkan.

مَنْ كاَنَ  يُؤْمِنٌ  باِللهِ  وَلْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقْلِلْ  خَيْرَاً  أًوْ لِيَصْمُتْ 

Siapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah dia berkata baik atau diam.”

Ucapan yang baik adalah ucapan yang mendatangkan manfaat bagi diri kita dan orang lain. Ucapan yang biaik adalah ucapan yang tidak memuat dusta didalamnya dan tidak membuat orang lain tersinggung atau sakit hat. Ucapan yang baik adalah ucapan yang dirangkai dengan pilihan kata yang bijak dan menyenangkan orang yang mendengarnya. Memang tidak semua orang bisa berbuat begitu. Oleh karena itulah maka Nabi mengingatkan sebaiknya kamu diam.

Perhatikan bahwa pada hadits di atas,berkata baik dikatkan dengan beriman kapada Allah dan hari akhir. Begitu pentingnya berkata baik ini sehingga seolah-olah orang yang tidak bisa berkata baik tapi tidak memilih diam, tidk beriman kepada Allah dan hari akhir. Dari hadits ini pula kita mengkaji bahwa berkata baik menjadi premis kesempurnaan iman kitakepada Allah dan hari akhir.

Luqman, lelaki sederhana berkulit hitam yang namanya disematkan dalam salah satu surat Al-Quran bukanlah seorang Nabi. Namun dia mendapat julukan Alhakim , The wise man , laki-laki yang bijak, antara lain karena ucapan-ucapannya yang baik dan penuh hikmah. Kata-kata yang keluar dari mulutnya sarat dan pembelajaran dan hikmah mandala seperti yang suatu kali pernh dilontarkan di hadapan putranya.

Orang yang selalu berkata lurus dan baik dijanjikan Allah dengan karunia dan anugerah yag teramat berharga perhatikan janji Allah ini seperti yang tertuang dalam surat Al-Ahzab ayat 70-71,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا
سَدِيدًا
يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَمَنْ
يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمً

Hai orang-orang yang beriman bertakwalaah kamu kepada Allah dan katakanllah denganperkataan yang benar,”

Niscaya Allah memperbaiki amalan-amalan dan mengampuni dosa-dosamu. Dan barang siapa Allah dan Rosulnya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.”

Seorang muslim yang rendah hati tentu sadar baetapa tidak sempurnanya amalan-amalan da ibadah yang dilakukannya. Shalat yang kita kerjakan bercampur-baur dengan pikiran-pikiran duniawi yang menjauhkan kit dari kekhusyuan. Adaklanya ketika berpuasakita masih menggunjing orang. Banyak ibadah yang tak sepenuhnya ikhlas karena Allah semata. Dengan mengucapkan qoulan sadiidan  seperti tersirat dalam surat di atas, maka Allah akan meluruskan amalan-amalan dan ibadah kita yang melencemg itu. Janji Allah bukan cuma itu. Dosa-dosa kita juga akan diampuni.Kalau amalan da ibadah sudah diluruskn dan dosa-dosa diampuni, maka tak ada yang menanti kecuali ridha dan surga Allah yang penuh kenikmatan.

Ada orang yang setiap kali ngomong selalu cenderung dan menyinggung dan melukai perasaan orang lain. Entah kesalahan atau latar-belakang apa menyebabkan seseorang cenderung seperti itu. Oleh karena itu, setiak kali kita akan melontarkan sebuah ucapan hendaknya kita mengkajinya sungguh-sunngguh apakah ucapan kita tidak enak terdengarnya di telinga oran. Ini sungguh perlu sekali karena ucapan yang sudah terlanjur diucapkan tentu sulit untuk ditarik kembali. Di dalam surat Qaaf ayat 18 Allah mengingatkan,

مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

“Tiada suatu ucapan pun yang diucapkan melainkan ada di dektnya malaikat pengawas yag selalu hadir.”

Rasulullah adalah tauladan terbaik di dalam berbicara, Beliu tersenyum ketika berbicara, bertutur- kata yang lembut dan menyenangkan sehingga setiap yang mendengar pasti akan terbuai karenanya. Beliau tidak tergesa-gesa ketika berbicara kepada orang lain. Bahkan kepada anak kecil pun Rasulullah selalu bertutur kata dengan cara yang sangat menyenangkan.

Ketika Rasul berbicara, bahasa yang Beliau pakai serlalu tersusun indh dan mudah dipahami. Rasul tidak berbicara manakala tidak perlu dan tidak membawa manfaat. Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah pernah berkata,” Aku diutus dengan jawami’ al-Kalim,” yang berarti ucapan yang singkat tetapi sarat makna.

Wallahua’lam bisshawab

Tidak ada komentar untuk "Adab: Menjaga Lisan"

Berlangganan via Email