Widget HTML Atas

Hidup Adalah Timbal Balik


Assalamualaikum sahabat MADSUK.COM, bagaimana kabar hari ini ? semoga slalu di beri kesehatan oleh Allah , Aaamiiin
Artikel kali ini membahas tentang bertafakur / intropeksi diri dalam hidup bersosial .
Allah SWT berfirman :
اِنْ اَحْسَنْتُمْ لِاَنْفُسِكُمْ وَاِنْ اَسَاْتُمْ فَلَهاَ
“Jika Kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri,dan jika kamu bebuat jahat , maka (kejahatan ) itu bagi dirimu sendiri. (QS.AL-Isro :7)”

Al-Thantawi menafsirkan ayat di atas dengan pejelasan sebagai berikut:
“Kemudian Allah menjelaskan setelah itu tentang sunnah-Nya yang tak akan
Menyimpang.Bahwa dampak kebaikan adalah keberuntungan (falah),sedangkan
dampak kemaksiatan adalah kerugian  (khusran).Setiap manusia bertanggung-jawab atas
perbuatannya.hasil perbuatan ini,baik atau buruknya,tidak akan kembali kecuali pada 
dirinya sendiri" .
Selanjutnya,pakar tafsir dari mesir itu menjelaskan:
“Jika kalian wahai manusia berbuat kebaikan dengan melakukannya sesuai cara 
yang diridhai oleh Allah Taala,maka kalian akan beuntung dan bahagia.kalian akan
memetik hasil baik yang menjadi buah perbuatan baik kalian itu.namun jika kalian 
berbut kejelekan ,dengan lebih mengutamakan perbutan buruk daripada perbuatan 
baik,maka kalian merugi,celaka,dan kalian akan menanggung semua kehinaan
itu sendiri”yang menjadi buah bagi perbuatan buruk yang tidak diridhai oleh Allah 
Ta’ala itu.”(al Thantawi al-wasith,jilid 8,hal 293).
Melalui penjelasan tafsir ayat ini,kita dapat menyimpulkan bahwa ap yang aka kita 
terima adalah hasil perbuatan kita sendiri.ini adalah sunnatullah yang pasti bakal terjadi
karena keadilan Allah subhanahu WaTa’ala.Allah tidak bakal menimpakan siksa-Nya 
pada orang yang ibadah ,dan tak akan memberikan pahala-Nya bagi orang yang berbuat
maksiat.karena itulah maka disediakan surge dan neraka.


Dalam ayat  lain Allah menegaskan:
هَلْ جَزَاءُ الْإِحْسَانِ إِلَّا الْإِحْسَانُ
"Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula).”(Qs.Ar-rahman :60).


Al-Thantawi merilis beberapa pendapat sahabat mengenai tafsir ayat ini . menurut ikrimah , tidaklah balasan orang yang menyakini La ilaha illallah kecuali surga . Menurut Ibnu Abbas , tidaklah balasan orang yang meyakini La ilaha illallah da mengamalkan apa yang di bawa oleh nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wasallam kecuali pasti surga .
Sedangkan menurut ibnu Zaid ,tidaklah balasan orang yang berbuat baik di dunia kecuali
Pasti akan diberikan kebaikan kebaikan untuknya di akhirat nanti.
Setelah membaaca ayat  60 suratt ar-Rahman di atas Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallaam,bersabda :
“Apakah kalian mengetahui apa yang difirmankan tuhan kalian ?”para sahabat
menjawab ,”Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.”nabi lalu bersabda:   “Dia berfirman balasan bagi orang yang telah dia beri kenikmatan untuk bertauhid pasti adalah surga .”
(lihat al-Wasith,jilid 14,hal 148). 

Pada hakikatnya hidup ini adalah timbal balik .   Al-Hayatu  mukafa’ah .
Perilaku kita hari ini akan menyebabkan adanya balasan di akhirat nanti, sesuai dengan 
kadar dan bentuk perbuatan kita.Terdapat akidah yang berbunyi,al-jaza’ala qadril ‘amal.
balasan itu tergantung perbuatannya.Salah satu contoh bahwa balasan itu tergantung 
balasannya itu tergantung balasannya adalah siksaan yang dialami manusia yang  tak 
mau mengeluarkan zakat yang manjadi kewajibannya.Allah berfirman:

يَوْمَ يُحْمَىٰ عَلَيْهَا فِي نَارِ جَهَنَّمَ فَتُكْوَىٰ بِهَا جِبَاهُهُمْ وَجُنُوبُهُمْ وَظُهُورُهُمْ ۖ هَٰذَا مَا كَنَزْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ فَذُوقُوا مَا كُنْتُمْ تَكْنِزُونَ

“Pada  hari dipanaskan emas perak itu didalam neraka jahannam,lalu 
dibakarnya dahi mereka , lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan )kepada 
mereka: ‘Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri ,maka rasakanlah 
sekararang (akibat dari) apa yang kamu simpan (’Qs.At-Taubah:35).

Ayat ini menjelaskan bahwa orang yang tidak menafkahkan hartanya ddijalan 
Allah akan mendapat siksaan dengan dibakarnya dahi, lambung,  dan  punggung mereka 
Al-Sya’rawidalam tafsirnya menjelaskan sisi mukafa’ahatau timbal balik dalam jenis hukuman 
Ini.
Menurut penjelasannya, orang fakir menemui orang kaya untuk minta  sedekah dan memang dia membutuhkannya. Orng kaya yang tidak mau memberikan sedekah akan bermuka masam ,atau bahkan marah , sehingga orang fakir tadi akan merasa terhina. Kemudian orang fakir tadi ituakan memutar dengan menghadap sisi tubuhnya, lalu membelakangi orang kaya 
tadi. Maka ketiga bagian anggota itu “terlibat” saat dia ditolak dan tak diberi  sedekah.
Al-Sya’rawi menjelaskan:

“Oleh  karena itu, ketiga anggota tubuh tersebut terkadaang terlibat dalam penolakan 
Seseorang untuk mmenafkahkan hartanya dijalan Allah ,Yaitu wajah yang dia putar untuk menjauh, kemudian dia mengarahkan sisi tubuhnya, lalu punggungnya  (untuk membalikan 
badannya karena dia ditolak). Ini adalah ketiga  anggota yang ikut serta dlam penolakan 
pemberian haka Allah untuk orang fakir ini. Oleh karena itu, orang (yang tak mau menafkahkan 
hartannya ) tersebut harus disiksa dengan dibakar dahi,  lambung , dan punggungnya.
(Tafsir al-Sya’rawi,jilid 8, hal 5068). 

Dalam salah satu jenis siksaan ini juga terdapat timbal balik yang sepadan Hukum mukafa’ah atau timbal balik ini ternyata tak laku di akhirat nanti. Di dunia pun, balasan itu
Terkadang telah disegerakan oleh Allah Ta’ala. Kebaikan  berbuah kebaikan, kejelekan 
Akan berbuah kejelekan.
Dalam ranah sosial,apa yang dilakukan orang lain pada kita sebenarnya merupakan 
cermin perilaku kita kepadanya. Orang mencintai kita tentu karena sikap baik kita kepadanya .demikian puia sebaliknya, orang mengekspresikan kebencian pada kita juga karena perilaku 
kita kepadanya yang barng kali kurang menyenangkan,
Rumus timbal balik semacam ini berlaku pada kasus kebanyakan, kecualidalam 
kejadian-kejadian tertentu.Memang ada orang yang berbuat baik, namun dibalas sesuatu yang tidak baik. Kita mengenal pepatah,”Air susu dibalas dengan air tuba.” Namun dapat dipastikan bahwa hal kadaarnya sedikit bila digandengkan dengan hipotesa kita yang pertama,bahwa yang baik dibalas dengan yang baik dan yang buruk menyebabkan balasan yang buruk pula.

Dalam hadits yang diriwayatkan dri Abu Huraira, Rasulullah bersabda,
“Jagalah  kehormatan istri orang, maka istrimu akan terjaga kehormatannya .
Berbaktilah kepad orang tuamu, niscaya ank-anakmu akan berbakti kepaamu.”
(Shahih al-isnad atu sanadnya shahih.Lihat al-Mustdrok ‘ala al-Shahihain haditts nomor 7340).’

Kasus mukafa’ah cinta berbalas cinta inikita temui dalam diri Rasulullah. Dalam hadits marfu’ yang diriwayatkan dari Anas bin Malik, Rasululah bersabda bahwa ada tiga hal yang barang siapa memilikinya maka dia measakan manisnya keimanan. Salah satu dari tiga hal itu adalah Allah dan Rasulullah menjadi yang lebih ia cintai daripada yang lain bahwa keimanan seseorang belum sempurna sampai ia mencintai Rasulullah melebihi cintanya kepada orang tuanya, bahkan kepada dirinya sendiri.
Timbul pertanyaan dari benak kita,mengapa kita harus cinta kepada Rasulullah meebihi cinta kita kepada diri kita sendiri?  Salh satu jawabannya, karena rasul cinta kepada kita sebagai umatya melebihi cinta kita kepada diri kita sendiri. Diakhir hayat beliau, yang beliau khawatirkandalah umatnya. Didalam barzakh nanti, ketika manusia melintasi di atas shirat (jembatan yang membentang di atas neraka ,beliau akan berdiri di salah satu sisinya dan berdoa,”Ya Rabb, sallim, ya Rabb sallim (ya Rabb selamtkan umatku, selamatka umatku). 

Ini berrti Rasulullah tidak rela kalu umatnya masuk dalam neraka. Terkadang kita sndiri yang mengaja, merayu, atau memaksa diri kita untuk melakukan perbuatan hli nerka, na’dzu billah. Itu berarti cinta Rasul pada kita melebihicita kita kepada diri kita sendir.
Cinta Rasulullah kepada umatnya harus di balas dengan cinta umatnya kepada beliau Sekali lagi, adaisyarat timbal balik disini . Rasul sangat berhak dicintai karena besarnya sifat cinta dan kasih sayangnya kepada umatnya, kepada keluarga, istri, dan anak-anakn kecil.Tidak hanya kepada manusia, beliau juga memiliki sifat kasih saying kepadaa hewan, bahkan pada benda mati sekalipun.
Melihat penting konsep mukfa’ah atau timbal balik ini, maka sebesar itulah pentinnya kita mengembangkan potensi dan kapasitas diri, hasilya,  sikap  yang kita terima dari orang lain itulah cermin ikhtiar dan kita dalam mengemagkan diri 
Ada orang selain dicintai oleh orang ia juga dibutuhkan, misalnya ad suatu acara bersama ditengah masyarakay atau perkumpulan dimana ia harus datang.bila orang ini tidak datang, maka acara yang sudah tersusun rapi akan menjadi kacau. Dapat dipastikn bahwa orang yang dicintai dan dibutuhkan, Karena kapasitas dirinya adalah orang yang baik. Barang kali ia ilmu yang luas, pegalaman yang banyak, kepribadian yang menyenangkan,dan sebagainya.
Namun ada pula orang yang tidak dicintai dan juga tidak dibutuhkan orang lain. Kebalikan dari contoh pertama di atas, bila ada suatu acara ditengah masyarakat atau perkumpulan, maka kedatangan tidak di harapkan banyak orang. Bila orang ini datang,maka acara yang sudah tertusuan rapi akan menjadi kacau. Mungkin kaerena selain tidak memberikan bantuan dan, dalalam pandangan orang lain dia adalah orang yang menjengkelkan,  suka mencampuri orang, bahkan merecoki urusan orang lain yang bukan menjadi urusannya. 
Penjelasan ini bukan mengajak kita untuk membenci orang lain, namuan kita kembalikan kepada diri kita sendiri. Jangan sampai kitamendapat timbal balik yang buruk dari orang lain gara-gara sikap sifat yang tidak baik. Idealnya,  dalam hdup ini kita dpat memberikn manfaat banyak kepada orang lain.Itulah karakter sebaik-baik manusiaseperti dijelaskan oleh Nabi. Salah satu indikasi bahwa pern dan bantuan kita dapat dimanfaatkan oleh orang lain adalah apabila mendapat timbal balik yang baik dari orang lain, ini bisa berupa cinta atau simpati. Namun perlu diluruskan bahwa sbenarnya bukn balasan dariorang lain yang kita harapkan. Setidaknya itu menjadi ukuran,  siapadiri kita dalam pandangan orang lain, terutama dihadapan Allah.
Allah berfirman:

وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ ۖ وَسَتُرَدُّونَ إِلَىٰ عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
“Dan katakanlah,’bekerjalah kamu,maka Allah dan Rasulnya dan bersama orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu,dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah)yang mengetahui dan yang nyata,lalu diberikan-Nya kepadamu apa  yang kamu kerjakan.”(Qs At-Taubah: 105
Wallahu’alam 


Tidak ada komentar untuk "Hidup Adalah Timbal Balik"

Berlangganan via Email