Widget HTML Atas

Cinta Sahabat kepada Nabi




Maasyiral Muslimin Rahimakumullah.

Cinta kepada baginda nabi SAW adalah wajib. Tidak sempurna iman seorang muslim sehingga ia mencintai Nabi SAW melebihi semua makhluk. Nabi SAW bersabda 
“Tidaklah sempurna iman seorang hamba sehingga aku lebih ia cinta daripada keluarganya, hartanya dan seluruh manusia.” (HR Muslim ). 
Tetapi cinta bukan sebatas ucapan lisan. Cinta harus ada dalam hati dan bukan dengan perbuatan. Orang yang benar-benar mencintai Nabi SAW hanya akan selalu ingat kepada Nabi SAW setiap saat dan tempat, bukan hanya di bulan Maulid 
Tidakkah anda renungkan bagaimana Allah SWT selalu mengarahkan kita untuk mengingat Nabi setiap saat? Perhatikan kalimat syahadat!  tidak sah islam seseorang sampai ia mengucapkan nama Baginda Nabi Muhammad SAW di dalam syahadat. Perhatikan pula shalat! Kita diperhatikan Nabi SAWdalam tasyahud dalam mengucapkan:  
اَلسَّلاَ مُ عَلَيْكَ اَيُّهاَ النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكاَتُهُ
Keselamatan semoga terlimpahkan kepada engkau Nabi, dan juga rahmat Allah serta keberkahan Allah.” 
Kita menggunakan kata engkau, seakan-akan kita berbicara langsung dengan Nabi SAW di dalam shalat kita. Tidak sah shalat yang di dalamnya tidak di sebutkan Nabi SAW. 
Dalam adzan dan iqomah, khutbah jum’at, doa dan hamper semua tempat di mana nama Allah disebutkan, pasti disebutkan pula nama Nabi SAW. Bahkan setiap perkumpulan kita dianjurkan untuk membaca shalawat kepada Nabi SAW. Semua ini adalah agar kita senantiasa mengingat Baginda Nabi Muhammad SAW. Karena beliaulah satu-satunya jalan untuk mendapatkan cinta Allah SWT. 
Para sahabat Nabi SAW adalah contoh sempurna dalam mencintai dan mengingat Nabi SAW. Mereka menjaga dengan sungguh- sungguh semua yang dapat mengingatkan kepada Nabi SAW. Mereka menjaga rambut Nabi SAW, potongan kuku Nabi, keringat nabi, gelas Nabi, pakaian Nabi, tongkat Nabi, selendang Nabi, sandal Nabi, tempat-tampat shalat Nabi dan semua yang terkait dengan Nabi SA. 
Sampai-sampai seorang kafir di masa Nabi SAWpernah berkata: 
“ Demi Allah, sungguh aku pernah mengunjugi raja-raja. Aku pernah berkunjung pada Kaisar, Kisra dan Najasi. Demi Allah aku tidak pernah nelihat sama sekali seorang raja yang digunakan pengikutnya sebagaimana para sahabat Muhammad mengagungkan Muhammad SA.” (HR Ahmad ). 
Demikianlah para sahabat mengajarkan cinta kepada Nabi SAW. Bukan hanya melakukan sunnah Nabi saja, namun juga menjaga dan memelihara semua peninggalan yang dapat mengingatkan kepada Nabi SAW walaupun itu adalah sandal. Mereka yang menganggap berharga dan mahal hal-hal zhahir yang terkait dengan Nabi SAWtentu lebih menganggap berharga hal-hal batin yang terkait dengan Nabi SAW, menghargai sunah dan segala ucapan Nabi SAW.

Maasyiral Muslimin rakhimahullah
Sahabat Bilal ra, muadzin nabi SAW. Tidak pernah sekali pun lupa kepada Baginda Nabi SAW.Selepas wafatnya Baginda Nabi SAW, Bilal tidak sanggup lagi untuk mengumandangkan adzan, tidak sanggup lagi tinggal di Madinah, melihat tempat-tempat yang mengingatkan kenangan indah bersama Baginda Nabi SAW. Bilalpergi menjauhi Madinah menuju syam untuk berjihad dan menetap di daerah Dariya. Bertahun-tahun Bilal meninggalkan Madinah . Suatu malam Bilal bermimipi bertemu dengan Nabi SAW. Nabi SAW berkata: 
“Hai Bilal apakah arti jauhmu ini? Tidakkah sudah tiba saatnya untuk meziarahku.” 
Bilal pu terbangun dalam keadaan sedih. Ia segera melakukan perjalanan menuju kota Nabi. Sampai di Madinah, beliau mendatangi makam Nabi SAW, menangis di sisinya dan mengusapkan wajahnya ke makam Nabi. 
Saat khalifah Abu bakar Ashidiq melihatnya, beliau meminta sahabat bilal untuk mengumandangkan adzan seperti di masa Rasulullah SAW. Namun sahabat Bilal menolak. Ia tidak sanggup mengumandangkan adzan setelah wafatnya Rasulullah SAW. Ketika sayyidina Umar RA melihatnya, beliau meminta hal yang sama dan lagi-lagi sahabat Bilal menolak.
Saat sahabat Bilal melihat kedua cucu rasulullah SAW, Sayyidina Hasan san Husain yang kelak akan menjadi dua pemuda penghuni surga, Bilal segera memeluk dan segera menggendong keduanya sambil menangis. Bilal tidak kuasa menahan kerinduan kepada Nabi SAW. Lalu keduanya berkata: 
“ Kami ingai mendengar suara adzanmu,”
Bilal tidak sanggup menolak permintaan kedua cucu Rasulullah SAW. Bilal pun menaiki tempat adzan. Ketika Bilal memulai adzannya: 
الله اكبر الله اكبر
Maka kota Madinah gempar 
 الله اكبر الله اكبر
Para sahabat bertanya-tanya dan saling berseru
“ Apakah Rasululllah telah dibangkitkan?” mereka mengingat suara adzan yang sama di masa Naabi SAW.
Ketika Bilal mengucapkan  
اشهدان لااّله الا الله
 Para lelaki keluar dari rumah dan dari pasar menuju masjid. 
اشهد ان لااَله الا الله 
Para wnita keluar dari rumah mereka berseraya bertanya-tanya 
“ Apakah Rasulullah telah dibangkitkan lagi?” 
Ketika Bilal sampai pada ucapan :
اشهد ان محمدًا رسول الله 
Maka kota madinah pecah oleh tangisan yang sangat memilukan. Semua menangis, teringat masa-masa indah bersama Nabi SAW. Bahkan Bilal sendiri pun tak sanggup meneruskan adzannya lagi. Lidahnya kelu oleh air mata yang berderai. Hari itu, kota Maadinah kembali mengenang masa Nabi Muhammad SAW. Tidak pernah kota Madinah megenal hari yang lebih banyak mengalirkan air mata setelah wafatnya Rasulullah SAW selain di hari ketika Bilal kembali ke madinah. 
Demikianlah para sahabat Nabi SAW. Mereka senantiasa mengenang Nabi dan memendam rindu kepadanya di setiap saat. Setiap kali Nama Nabi SAW disebut hati mereka bergetar. Sebagian mereka hampir tidak sanggup menyebutkan Nama Nabi SAW karena besarnya kerinduan kepada Nabi SAW. 
Marilah kita teladani para sahabat Nabi. Perbanyak mengingat Nabi, bukan hanya setahun sekali atau sebulan sekali tapi setiap saat. 
Semoga kita dapat merasakan nikmatnya Rindu dan cinta seperti yang Allah karuniakan kepada sahabat. 
Amiiin…………………………………….....................................................................................! 










Tidak ada komentar untuk "Cinta Sahabat kepada Nabi"

Berlangganan via Email