Widget HTML Atas

Arti Cinta Dalam Islam



    Assalamualaikum sahabat MadSuk.com bagaimana kabar hari ini? semoga  diberi kesehatan selalu oleh sang pencipta, amiiin ...!
Apakah sahabat MadSuk pernah merasakan cinta? pasti pernah dong! Lalu bagaimana pandangan islam Tentang arti cinta, mari simak artikel di bawah ini.

Tentang Cinta 

Habib Abdulloh bin alwy Al Haddad radhiallahu ‘anhu berkata:
Cinta itu bermula dari mengenal (ma’rifat ).” Sebuah pepatah lama berbunyi, tak kenal maka tak cinta .
Tulisan ini mencoba mengulas cintsa para shalihin kepada sang khaliq.Setidaknya kita mempunyai sebuah gambaran konkrit tentang hakikat sebuah cinta dalam arti yang sebenarnya. Bukan cinta palsuyang hanya membawa kita pada khayalan bertepi, namun cinta yang mengantarkan seorang pecinta pada keindahan abadi didalam surga.
Banyak dikisahkan dari kitab-kitab sala,bagaimana seorang pecinta yang setiap apa yang dilihatnya, dirasakannya, didengarnya hanya mengingatkan pada Allah. Bagaimana mungkin hal itu dapat terjadi? Apakah cinta seperti itu tak terlalu muluk dan tak mungkin diraih?
Jwabannya akan anda temukan dalam nasehat yang ditulis oleh Al Imam Habib Abdulloh bin Alwi Aal Haddad dalam kitabnya, Risalatul Mu’awanah. Beliau menjelaskan perihal tentang cinta kepada Allah dengan bahasa yang gamblang dan sarat isi. Hal itu tentu karena beliau sendiri memang telah mencapai mahabbah yang dimaksudnya itu. Apa yang tertuang dalam tulisannya bukan sekedar ilusi, apalagi sekedar teori kosong belaka. Sebagai gambaran sederhana tentang cinta, renungkan contoh simpel di bawah ini :
Seorang ibu, ketika  tengah asyik berbelanja disebuah supermarket, tanpa sengaja pandangannya tertuju pada es krim yang tertata menarik dalam Freezer yang bertutup kaca. Ibu itu tertegun sejenak. Pikirannya teringat pada anaknya yang masih kecil. Begitu pula ketika pandangannya tertumbuk pada sepasang sandal kecil yang lucu. Dibayangkan sang anak memakainya. Apapun yang dia lihat selalu meningatkan ibu ini pada anakya.Es krim, sandal kecil, boneka, maianan, semua membuat teringat pada anaknya. Mengapa? Jawabannnya: Cinta
Demikianlah kecintaan kaum shalihin pada Allah, hati mereka hanya tertuju pada Allahdalam segala gerak-gerik mereka. Cinta mereka sudah demikian mendalam hingga haya kepada Allahlah hati merka terpaku.
Dikisahkan bahwa Abu Darda radiallahu ‘anhu adalah seorang sahabatyang menikmati kecintaan kepada Allah dengan senantiasa melakukan shalat-shalat sunnah. Dimanapun ada kesempatan untuk shalat, pasti tak akan ia sia-siakan, mesti tengah berada ditengah kebun korma nya yang terkenal paling bagus diantara kebun korma yang ada.
Suatu ketika saat Abu Darda’ asyik melaksanakan shalat ditengah kebunnya, dilihatnya burung-burung berdatangan memakan bunga-bunga kurma yang tak lama lagi menjadi buah. Mau tak mau pandangan itu mengusik hatinya yang asyik berkomunikasi kepada Allah Azza wajalla. Tak perlu waktu untuk melawan kerisauan hatinya. Sesaat sesudah shalat, segera ditemui Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam. “Ya Rasulullah, sesungguhnya kebu kormaku telah merampas konsentrasiku ketika shalat. Maka dari kebu segera sedekahkan sekarang juga… “Rasulullah menerima niat baik Abu Darda. Tapi dengan bijak Nabi menyuruh Aaabu Darda tetap merwat kebunnya dan memberikan hasil panennya pada saudara-saudara yang membutuhkan.
Kisah Abu Darda memang sangat sulit diapliakasikan di zaman ini. Namun setidaknya kisah ini bisa menginspirasi kita untuk memperbaiki diri. Memulai sebuah langkah baru dalam mengenal Allah, kemudan setapakdemi setapak mencapai tahapan mahabbah kepada Allah subhanahu wata’ala. Bagaimana tahapan-tahapan cinta kepada Allah inibisa terjadi.
Imam Abdulloh bin Alwy Al Haddad menjelaskan:
Tingkatan terendah dari mahabbah adalah ketika rasa cinta pada Allah telah mengalahkan rasa cinta seorang hamba kepada selain  Allah.”
Cinta dalam tahapan terendah ini adalah keberanian menolak hal-hal yang dimurkai Allah sekalipun diajak oleh orang yang kita sayangi dan cintai. Ini baru tahapan yang paling rendah dari sebuah cinta pada Allah.
Baru-baru ini tanah air dihebohkan oleh seorang atlet Asian para games yang terpaksa didiskualifikasi karena keukeuh mempertahankan prinsipnya menggunakan jilbab. Banyak yang meryunya unuk mentaati aturan untuk melepas jilbab untuk event yang barangkali merupakan satu-satunya dalam hidupnya untuk tampil di ajang olahraga bergengsi itu.
Sebenarnya bukan hal sulitbaginya melepas jilbabnya dan mengikuti kejuaraan lalu kembali berjilbab setelah acara usai. Simple dan mudah. Tapi dengan segala konsekewensinya, atlet ini merelakan dia tereliminasi dari ajang kejuaraan olahraga yang telah bertahun-tahun  digelutinya. Salakah dia? Sama sekali tidak. Bahkan seharusnya dia mendapat medali kehormatan atas keberaniannya berpegang teguh pada prinsip. Kejadian pasti merupakan tamparan keras bagi kita yang terkadang dengan mudah melanggar aturan sang khaliq demi mentaati peraturan makhluk
”Siapapun orangnya, jangan ditaati bilamengajak maksiat pada Allah.”
Pertanyaannya sekarang adalah, sudahkah kita sudah mencapai tahapan terendah   mahabbah ini? Bagaimana tingkatan tertinggi rasa inta kepada Allah?
Al Imam Abdulloh bin Alwy Al Haddad menjelaskan:
Tingkatan tertinggi darirasa cinta kepad Allah adalah tak tersisa sedikit pun rasa cinta untuk selain Allah. Seratus persen citanya hanya untuk Allah semata.” 
Cinta yang hebat ini sangat langka, berat, dan istimewa. Mempertahankan cinta pada tingkatan ini jauh lebih berat lagi. Apa yang terjadi bila seorang hamba mencapai tingkatan ini? Semua sifat manusiawi menjadi hilang, larut dan tenggelam dalam cinta-nya. Seorang langsung hilang rasa sakit yang dideritanya bagitu mendengar tangis anaknya saat lahir. Seorang ayah, hilang rasa lelah dan capeknya, saat melihat anak-anaknya makan dengan lahap. Rasa sakit melahirkan, Rasa capek dan lelah saat bekerja di bawah  terik matahari adalah rasa yang manusiawi. Semua itu hilang dengan rasa cinta .demikian pula mahabbah di hati para shalihin. Mereka merasa nikmat saat beribadah pada Allah. Rakaat demi rakaat dilakukan dengan khusyu’ hingga tak mersakan keadaan sekitar. Sayyidina Ali Zayyinal Abidin tak mengetahui bahwa tempatnya beribadah terbakar hebat. Padahal, orang-orang disekitar rumah merasa kepanasan saat mencoba memadamkan api itu.
“Ada apa in? mengapa tiba-tiba semua hangus ? Tanyanya penuh keheranan setelah mengakhiri shalatnya
“ Wahai cucu Rasulullah! Tidakkah kau tahu api membakar bangunan ini ddengan hebatnya? Bahkan demikian hebatnya hingga kami yng diluar rumah merasa kepanasan luar-biasa.”
“Sungguh, sedikit pun aku tak merasakan panas. Ayat yang kubaca tadi mengingatkan aku pada api neraka hingga api dunia tak kurasakan panasnya,” pungkas Imam Ali zainal Abidin.
Rabi’ah Al Adawiyah pernah berkata, “Tidaklah aku menyembah Allah karena ingin masuk surga. Aku bukanlah  karyawan yang hanya mau bekerja bila digaji penuh. Aku sama sekali bukan seperti itu. Aku beribadah kepada-Nya hanya karena cintaku pada-Nya.
Wallahhua’lam bisshawab
Semoga hari ini ilmunya bermanfaat di dunia dan akhirat amiiin…………………………!!!” 







 

Tidak ada komentar untuk "Arti Cinta Dalam Islam "

Berlangganan via Email